Uploaded May 2018 | Updated September 2026, 1 week ago
Ilustrasi Perang Ambon vs VOC Belanda
VOC sukses menggulingkan Penguasaan Portugis atas perdagangan rempah kota Ambon pada 1605 dan memulai monopoli rempah dengan melarang dan memberantas rakyat maluku yang menanam rempah-rempah (pala, cengkeh, lada, dll) yang saat itu berharga tinggi di Eropa. Pembantaian penduduk kepulauan Banda pada 1621 oleh VOC untuk menguasai perdaganga pala salah satu puncak kekejaman VOC di Maluku.
Perlawanan Kapitan Kakiali - (1635 - 1643)
Kakiali adalah seorang kapitan Hitu (Ambon Utara) yang melakukan perlawanan terhadap VOC
Pada 1634 VOC mengadakan perundingan di kapal, namun ternyata hanya kedok untuk menangkap Kakiali. Kakiali kemudian diasingkan ke Batavia. Perlawanan rakyat maluku terhadap VOC bukannya mereda malah makin membesar.
Pada 1637 Gubernur-jendral VOC Van Diemen memerangi pejuang-pejuang maluku di Hoalmoal.Van diemen membebaskan Kakiali untuk meredam perlawanan. di saat damai Kakiali bersekutu dengan kerajaan ternate dan kerajaan Gowa (Makassar) untuk mengusir kompeni belanda. Serta tetap melakukan perdagangan bebas rempah-rempah secara sembunyi-sembunyi.
Pada 1638 Gubernur-jendral VOC Van Diemen kembali lagi ke Maluku.
Pada 1641 Kakiali menyerang benteng VOC, namun pada tahun tersebut Malaka telah jatuh ke tangan VOC sehingga bala bantuan VOC terus berdatangan ke Maluku. Pasukan Kakiali mulai terjepit.
Pada 16 Agustus 1643 Pembunuh bayaran VOC dari Spanyol, Francisco de Toire berhasil membunuh Kapitan Kakiali.
Perlawanan Kapitan Telukabessi (1645 - 1646)
Perlawanan dilanjutkan oleh Kapitan Telukabessi, Markas perlawanan dipusatkan di benteng Kapahaha.
- penyerbuan benteng Kapahaha (1645 - 1646)
1645 - VOC mengirim 3 ekspedisi menyerang markas Telukabesi di Kapahaha. Namun serangan2 itu dapat dipukul mundur oelh pejuang- pejuang Maluku.
Perjuangan Kapitan Telukabessy dibantu oleh pasukan pendukung Gowa pimpinan 'Tiga Tubarani' yaitu Karaeng Tulisi ,Karaeng Mangappa dan Karaeng Jipang serta Imam Rijali.
25 juli 1646 - VOC pimpinan Kapten Frans Leindard menyerang ke 4 kalinya ke benteng Kapahaha. Dengan tipu muslihat berhasil mengetahui titik lemah benteng, benteng tersebut jatuh ke tangan VOC.Rakyat Kapahaha yang tertangkap dalam penaklukan tersebut dikenal dengan nama "Hausihu" yang artinya bau terbakar karena sengitnya peperangan.
13 September 1646 - Kapitan Telukabesi menyerahkan diri untuk menyelamatkan rakyat maluku yang ditawan VOC dan dijatuhi hukuman gantung di Benteng Victoria. Jasadnya dibuang VOC Belanda di lepas pantai Namalatu, Ambon.
Perang Hoalmoal(1651-1656)
Perlawanan dilanjutkan oleh Kimelaha Majira dari Luhu & Kapitan Laut Saidi pada 'Perang Hoalmoal' atau 'Grote Ambonse Oorlog' (1651-1656). Gubernur VOC untuk Maluku Arnold de Vlamingh van Oudshoorn meredam perlawanan pejuang Maluku dengan tangan besi. Pada perang ini tanjung Hoalmoal dan Leitimur bangkit angkat senjata melawan VOC baik muslim maupun kristen. Perlawanan terhadap VOC meletus di Pulau Ambon & Pulau Seram & Pulau Buru.
29 Juli 1655 - Kapitan laut Saidi tertangkap oleh Pasukan VOC Belanda.Penduduk tanjung Hoalmoal yang turut dalam perlawanan dipindahkan secara paksa oleh VOC, yang muslim dipindahkan ke Hitu sedangkan yang Kristen dipindahkan ke Leitimur.
Perang masih dilanjutkan pejuang-pejuang Pulau Buru terhadap VOC hingga tahun 1658.
sumber :
Levinus Bor (1663) Amboinse oorlogen door Arnold de Vlaming van Oudshoorn als superintendent.Delft.
Georgius Everhardus Rumphius (1910) De Ambonse historie : behelsende een kort verhaal.M. Nijhoff.
George D. Larson (1987) Prelude to revolution.Foris Publications.
Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, Volume 160, Issues 1-3
Merle Calvin Ricklefs (2008) Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.Penerbit Serambi.
Saliha Belmessous (2014) Empire by Treaty: Negotiating European Expansion, 1600-1900.Oxford University Press.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (2002) VOC di kepulauan Indonesia: Berdagang dan Menjajah. Balai Pustaka.
Johannes Keuning (1973) Sejarah Ambon sampai pada akhir abad ke-17.Bhratara.
R. Z. Leirissa (1975) Maluku dalam Perjuangan Nasional Indonesia.Universitas Indonesia.
Maryam R. L. Lestaluhu (1988) Sejarah perlawanan masyarakat Islam terhadap imperialisme di daerah Maluku.Al-Maʼarif.
Klip diambil dari :
Klip diambil dari :
Lapu Lapu (2002)
Lomba kora kora banda neira @ZERO NEW
Banda Island / Indonesien, Teilnahme an einem traditionellen Kanu-Rennen @Marion Blumoer
perlombaan perahu kora - kora di kota kendari (sultra) @Denis mad
Gending Sriwijaya (2004)
Swashbuckler (1976)
Michiel de Ruyter (2015)
1612 (2007)
Dances With Wolves (1990)
Great Adventurers - Sir Francis Drake (2006)
Black Corsairs (1976)
Secrets of the Dead:Slave Ship Mutiny (2010)
Hang Tuah (1955)
Semburan Naga Seribu (1989)
Fatahillah (1998)
The Devil's Whore (2008)
Captain James Cook (1988)
Águila Roja (2009)
The Conquerors: Cromwell Conqueror of Ireland (2005)
Ilustrasi Perang Ambon vs VOC Belanda
VOC sukses menggulingkan Penguasaan Portugis atas perdagangan rempah kota Ambon pada 1605 dan memulai monopoli rempah dengan melarang dan memberantas rakyat maluku yang menanam rempah-rempah (pala, cengkeh, lada, dll) yang saat itu berharga tinggi di Eropa. Pembantaian penduduk kepulauan Banda pada 1621 oleh VOC untuk menguasai perdaganga pala salah satu puncak kekejaman VOC di Maluku.
Perlawanan Kapitan Kakiali - (1635 - 1643)
Kakiali adalah seorang kapitan Hitu (Ambon Utara) yang melakukan perlawanan terhadap VOC
Pada 1634 VOC mengadakan perundingan di kapal, namun ternyata hanya kedok untuk menangkap Kakiali. Kakiali kemudian diasingkan ke Batavia. Perlawanan rakyat maluku terhadap VOC bukannya mereda malah makin membesar.
Pada 1637 Gubernur-jendral VOC Van Diemen memerangi pejuang-pejuang maluku di Hoalmoal.Van diemen membebaskan Kakiali untuk meredam perlawanan. di saat damai Kakiali bersekutu dengan kerajaan ternate dan kerajaan Gowa (Makassar) untuk mengusir kompeni belanda. Serta tetap melakukan perdagangan bebas rempah-rempah secara sembunyi-sembunyi.
Pada 1638 Gubernur-jendral VOC Van Diemen kembali lagi ke Maluku.
Pada 1641 Kakiali menyerang benteng VOC, namun pada tahun tersebut Malaka telah jatuh ke tangan VOC sehingga bala bantuan VOC terus berdatangan ke Maluku. Pasukan Kakiali mulai terjepit.
Pada 16 Agustus 1643 Pembunuh bayaran VOC dari Spanyol, Francisco de Toire berhasil membunuh Kapitan Kakiali.
Perlawanan Kapitan Telukabessi (1645 - 1646)
Perlawanan dilanjutkan oleh Kapitan Telukabessi, Markas perlawanan dipusatkan di benteng Kapahaha.
- penyerbuan benteng Kapahaha (1645 - 1646)
1645 - VOC mengirim 3 ekspedisi menyerang markas Telukabesi di Kapahaha. Namun serangan2 itu dapat dipukul mundur oelh pejuang- pejuang Maluku.
Perjuangan Kapitan Telukabessy dibantu oleh pasukan pendukung Gowa pimpinan 'Tiga Tubarani' yaitu Karaeng Tulisi ,Karaeng Mangappa dan Karaeng Jipang serta Imam Rijali.
25 juli 1646 - VOC pimpinan Kapten Frans Leindard menyerang ke 4 kalinya ke benteng Kapahaha. Dengan tipu muslihat berhasil mengetahui titik lemah benteng, benteng tersebut jatuh ke tangan VOC.Rakyat Kapahaha yang tertangkap dalam penaklukan tersebut dikenal dengan nama "Hausihu" yang artinya bau terbakar karena sengitnya peperangan.
13 September 1646 - Kapitan Telukabesi menyerahkan diri untuk menyelamatkan rakyat maluku yang ditawan VOC dan dijatuhi hukuman gantung di Benteng Victoria. Jasadnya dibuang VOC Belanda di lepas pantai Namalatu, Ambon.
Perang Hoalmoal(1651-1656)
Perlawanan dilanjutkan oleh Kimelaha Majira dari Luhu & Kapitan Laut Saidi pada 'Perang Hoalmoal' atau 'Grote Ambonse Oorlog' (1651-1656). Gubernur VOC untuk Maluku Arnold de Vlamingh van Oudshoorn meredam perlawanan pejuang Maluku dengan tangan besi. Pada perang ini tanjung Hoalmoal dan Leitimur bangkit angkat senjata melawan VOC baik muslim maupun kristen. Perlawanan terhadap VOC meletus di Pulau Ambon & Pulau Seram & Pulau Buru.
29 Juli 1655 - Kapitan laut Saidi tertangkap oleh Pasukan VOC Belanda.Penduduk tanjung Hoalmoal yang turut dalam perlawanan dipindahkan secara paksa oleh VOC, yang muslim dipindahkan ke Hitu sedangkan yang Kristen dipindahkan ke Leitimur.
Perang masih dilanjutkan pejuang-pejuang Pulau Buru terhadap VOC hingga tahun 1658.
sumber :
Levinus Bor (1663) Amboinse oorlogen door Arnold de Vlaming van Oudshoorn als superintendent.Delft.
Georgius Everhardus Rumphius (1910) De Ambonse historie : behelsende een kort verhaal.M. Nijhoff.
George D. Larson (1987) Prelude to revolution.Foris Publications.
Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, Volume 160, Issues 1-3
Merle Calvin Ricklefs (2008) Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.Penerbit Serambi.
Saliha Belmessous (2014) Empire by Treaty: Negotiating European Expansion, 1600-1900.Oxford University Press.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (2002) VOC di kepulauan Indonesia: Berdagang dan Menjajah. Balai Pustaka.
Johannes Keuning (1973) Sejarah Ambon sampai pada akhir abad ke-17.Bhratara.
R. Z. Leirissa (1975) Maluku dalam Perjuangan Nasional Indonesia.Universitas Indonesia.
Maryam R. L. Lestaluhu (1988) Sejarah perlawanan masyarakat Islam terhadap imperialisme di daerah Maluku.Al-Maʼarif.
Klip diambil dari :
Klip diambil dari :
Lapu Lapu (2002)
Lomba kora kora banda neira @ZERO NEW
Banda Island / Indonesien, Teilnahme an einem traditionellen Kanu-Rennen @Marion Blumoer
perlombaan perahu kora - kora di kota kendari (sultra) @Denis mad
Gending Sriwijaya (2004)
Swashbuckler (1976)
Michiel de Ruyter (2015)
1612 (2007)
Dances With Wolves (1990)
Great Adventurers - Sir Francis Drake (2006)
Black Corsairs (1976)
Secrets of the Dead:Slave Ship Mutiny (2010)
Hang Tuah (1955)
Semburan Naga Seribu (1989)
Fatahillah (1998)
The Devil's Whore (2008)
Captain James Cook (1988)
Águila Roja (2009)
The Conquerors: Cromwell Conqueror of Ireland (2005)

![Battle on the Ice (German Teutons vs Russian Novgorod)
The Battle on the Ice (Russian: Ледовое побоище; German: Schlacht auf dem Eise) was fought between the Republic of Novgorod led by prince Alexander Nevsky and the crusader army of the Teutonic Knights led by Hermann of Dorpat on April 5, 1242, at Lake Peipus, Present day Russian Border with Estonia & Latvia.
Hoping to exploit Novgorods weakness in the wake of the Mongol and Swedish invasions, the Teutonic Knights attacked the neighboring Novgorod Republic and occupied Pskov, Izborsk, and Koporye in autumn 1240. When they approached Novgorod itself, the local citizens recalled to the city 20-year-old Prince Alexander Nevsky, whom they had banished to Pereslavl earlier that year. During the campaign of 1241, Alexander managed to retake Pskov and Koporye from the crusaders.
On April 5, 1242. Alexander, intending to fight in a place of his own choosing, retreated in an attempt to draw the often over-confident Crusaders onto the frozen lake.the crusader forces likely numbered around 2,600, including 800 Danish and German knights, 100 Teutonic knights, 300 Danes, 400 Germans and 1,000 Estonian infantry.[4] The Russians fielded around 5,000 men: Alexander and his brother Andreis bodyguards (druzhina), totalling around 1,000, plus 2000 militia of Novgorod, 1400 Finno-Ugrian tribesman and 600 horse archers.
The Teutonic knights and crusaders charged across the lake and reached the enemy, but were held up by the infantry of the Novgorod militia. This caused the momentum of the crusader attack to slow. The battle was fierce, with the allied Russians fighting the Teutonic and crusader troops on the frozen surface of the lake. After a little more than two hours of close quarters fighting, Alexander ordered the left and right wings of his army (including cavalry) to enter the battle. The Teutonic and crusader troops by that time were exhausted from the constant struggle on the slippery surface of the frozen lake. The Crusaders started to retreat in disarray deeper onto the ice, and the appearance of the fresh Novgorod cavalry made them retreat in panic.
The Crusaders defeat in the battle marked the end of their Catholic campaigns against the Orthodox Novgorod Republic and other Slavic territories for the next century. The Novgorodians succeeded in defending Russian territory, and the crusaders never mounted another serious challenge eastward. Alexander was canonised as a saint in the Russian Orthodox Church in 1574.In the 1243 treaty between Novgorod and the Teutonic Order signed, where the knights abandoned all claims to Russian lands.
Source :
https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_on_the_Ice Battle on the Ice (German Teutons vs Russian Novgorod)](https://i.ytimg.com/vi/zT9wUHT46kc/mqdefault.jpg)

