Uploaded July 2017 | Updated September 2026, 1 week ago
Ilustrasi Perang di Pulau Timor (Pemberontakan Cailaco)
Pada 1719 raja-raja (liurai) dan para Larantuqueiros (indo dari larantuka,flores) di Pulau Timor mengadakan perlawanan terhadap penguasa Kolonial Portugis di Pulau Timor.Peristiwa ini dimulai dengan pemberontakan Cailaco (Cailaco-Rebellion). Penyebab perlawanan ini adalah utamanya adalah karena pembebanan Pajak/upeti yang tinggi (fintas), serta pengangkatan liurai/raja dengan penunjukan langsung oleh Portugis, bukan dengan prosesi adat yang seharusnya. Selain itu juga terdapat insiden penangkapan 23 pimpinan Larantuqueiros oleh Portugis saat melakukan perundingan. Di sisi lain, motif ekonomi juga berperan penting, yaitu penguasaan produksi Kayu Cendana yang banyak tumbuh di pulau Timor oleh Kolonial Portugis. Saat itu Kayu Cendana merupakan komoditas dengan harga sangat tinggi dan banyak diminati oleh bangsa asing terutama bangsa Eropa. Perang di Timor melawan kekuasaan Kolonial Portugis terus berlangsung hingga beberapa dekade ke depan.
Pada 28 November 1765 Gubernur Portugis di Lifau, Dionísio Gonçalves Rebelo Galvão, diracun oleh Larantuqueiros pimpinan Francisco da Hornay III, António da Costa, Quintino da Conceição dan Lourenço de Mello yang tidak menginginkan pemerintah kolonial baik Portugis maupun VOC Belanda berkuasa dan memonopoli pemerintahan dan perdaganagan kayu cendana di Timor. Sebelumnya pada 1761, Komandan VOC Kupang, Hans Albrecht von Pluskow juga terbunuh oleh Larantuqueiros saat bernegosiasi untuk meluaskan kekuasaan VOC di Pulau Timor.
Pada 1766, Pemerintahan Kolonial Portugis di Goa, India, menunjuk António José Teles de Meneses sebagai gubernur koloni portugis di Pulau Timor. Pada Juli 1766, Larantuqueiros pimpinan Francisco da Hornay III beserta Domingos & Antonio Da Costa menyerang ibukota kolonial portugis di Lifau (Oekusi). Raja Larantuka di Flores, Dom Manuel, juga membantu Larantuqueiros dengan mengirimkan pasukan pendukung. Namun benteng Lifau sulit ditembus oleh pasukan da Hornay. Selanjutnya pasukan Larantuqueiros berubah siasat dengan mengepung kota lifau dari darat dan laut. de Meneses meminta bantuan dari koloni Portugis di Macau, China, namun kapal yang dikirimkan tidak kunjung sampai ke Lifau. Selama 3 tahun ibukota Portugis dikepung oleh Pasukan Larantuqueiros dan pasukan kerajaan-kerajaan di Pulau Timor.
Dikarenakan suplai makanan dan senjata tidak mencukupi untuk menahan pengepungan oleh para Larantuqueiros dan pasukan kerajaan-kerajaan di Timor, pada 11 Agustus 1769, Gubernur Portugis António José Teles de Meneses memerintakan meninggalkan Ibukota lama di Lifau secara diam-diam dengan 2 Kapal yaitu São Vicente and Santa Rosa. De Meneses meninggalkan Lifau dengan 1200 kolonis portugis. Sebelum meninggalkan Lifau, Portugis membakar kota Lifau agar pasukan Larantuqueiros dan pasukan Timor tidak mendapatkan harta rampasan. De Meneses selanjutkan melarikan diri ke Dili, dan memindahkan ibukota Kolonial Portugis Timor dari Lifau ke Dili pada 10 Oktober 1769.
Para Larantuqueiros dan raja-raja Timor dapat berdaulat dan berdagang secara merdeka di pulau Timor barat selama beberapa abad, hingga akhirnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mulai meluaskan daerah kekuasaannya di Timor pada pertengahan abad ke 19.
Sumber :
Lords of the Land, Lords of the Sea: Conflict and Adaptation in Early Colonial Timor, 1600-1800, Hans Hägerdal,BRILL, 2012
Laura Jarnagin: Portuguese and Luso-Asian Legacies in Southeast Asia, 1511-2011: Culture and identity in the Luso-Asian world, tenacities & plasticities,Institute of
Southeast Asian Studies, 2011
Portuguese Eurasian Communities in Southeast Asia,Ronald Daus,Institute of Southeast Asian, 1989
Cuplikan ilustrasi ini diambil dari :
The Liberator (2013)
Canada: A People's History - Documentary (2000)
Gending Sriwijaya (2013)
Lapu-Lapu (2002)
The Legend of Suriyothai (2001)
Naresuan (2007)
Royal Blood (2015)
Horatio Hornblower (1998)
Fanfan La Tulipe (2003)
Mhor Hethren Sork Kandanh (2012)
San Martín. El Combate de San Lorenzo (2008)
Black Sails (2014)
1612 (2007)
Captain James Cook (1987)
1492:Conquest of Paradise (1992)
Ilustrasi Perang di Pulau Timor (Pemberontakan Cailaco)
Pada 1719 raja-raja (liurai) dan para Larantuqueiros (indo dari larantuka,flores) di Pulau Timor mengadakan perlawanan terhadap penguasa Kolonial Portugis di Pulau Timor.Peristiwa ini dimulai dengan pemberontakan Cailaco (Cailaco-Rebellion). Penyebab perlawanan ini adalah utamanya adalah karena pembebanan Pajak/upeti yang tinggi (fintas), serta pengangkatan liurai/raja dengan penunjukan langsung oleh Portugis, bukan dengan prosesi adat yang seharusnya. Selain itu juga terdapat insiden penangkapan 23 pimpinan Larantuqueiros oleh Portugis saat melakukan perundingan. Di sisi lain, motif ekonomi juga berperan penting, yaitu penguasaan produksi Kayu Cendana yang banyak tumbuh di pulau Timor oleh Kolonial Portugis. Saat itu Kayu Cendana merupakan komoditas dengan harga sangat tinggi dan banyak diminati oleh bangsa asing terutama bangsa Eropa. Perang di Timor melawan kekuasaan Kolonial Portugis terus berlangsung hingga beberapa dekade ke depan.
Pada 28 November 1765 Gubernur Portugis di Lifau, Dionísio Gonçalves Rebelo Galvão, diracun oleh Larantuqueiros pimpinan Francisco da Hornay III, António da Costa, Quintino da Conceição dan Lourenço de Mello yang tidak menginginkan pemerintah kolonial baik Portugis maupun VOC Belanda berkuasa dan memonopoli pemerintahan dan perdaganagan kayu cendana di Timor. Sebelumnya pada 1761, Komandan VOC Kupang, Hans Albrecht von Pluskow juga terbunuh oleh Larantuqueiros saat bernegosiasi untuk meluaskan kekuasaan VOC di Pulau Timor.
Pada 1766, Pemerintahan Kolonial Portugis di Goa, India, menunjuk António José Teles de Meneses sebagai gubernur koloni portugis di Pulau Timor. Pada Juli 1766, Larantuqueiros pimpinan Francisco da Hornay III beserta Domingos & Antonio Da Costa menyerang ibukota kolonial portugis di Lifau (Oekusi). Raja Larantuka di Flores, Dom Manuel, juga membantu Larantuqueiros dengan mengirimkan pasukan pendukung. Namun benteng Lifau sulit ditembus oleh pasukan da Hornay. Selanjutnya pasukan Larantuqueiros berubah siasat dengan mengepung kota lifau dari darat dan laut. de Meneses meminta bantuan dari koloni Portugis di Macau, China, namun kapal yang dikirimkan tidak kunjung sampai ke Lifau. Selama 3 tahun ibukota Portugis dikepung oleh Pasukan Larantuqueiros dan pasukan kerajaan-kerajaan di Pulau Timor.
Dikarenakan suplai makanan dan senjata tidak mencukupi untuk menahan pengepungan oleh para Larantuqueiros dan pasukan kerajaan-kerajaan di Timor, pada 11 Agustus 1769, Gubernur Portugis António José Teles de Meneses memerintakan meninggalkan Ibukota lama di Lifau secara diam-diam dengan 2 Kapal yaitu São Vicente and Santa Rosa. De Meneses meninggalkan Lifau dengan 1200 kolonis portugis. Sebelum meninggalkan Lifau, Portugis membakar kota Lifau agar pasukan Larantuqueiros dan pasukan Timor tidak mendapatkan harta rampasan. De Meneses selanjutkan melarikan diri ke Dili, dan memindahkan ibukota Kolonial Portugis Timor dari Lifau ke Dili pada 10 Oktober 1769.
Para Larantuqueiros dan raja-raja Timor dapat berdaulat dan berdagang secara merdeka di pulau Timor barat selama beberapa abad, hingga akhirnya Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mulai meluaskan daerah kekuasaannya di Timor pada pertengahan abad ke 19.
Sumber :
Lords of the Land, Lords of the Sea: Conflict and Adaptation in Early Colonial Timor, 1600-1800, Hans Hägerdal,BRILL, 2012
Laura Jarnagin: Portuguese and Luso-Asian Legacies in Southeast Asia, 1511-2011: Culture and identity in the Luso-Asian world, tenacities & plasticities,Institute of
Southeast Asian Studies, 2011
Portuguese Eurasian Communities in Southeast Asia,Ronald Daus,Institute of Southeast Asian, 1989
Cuplikan ilustrasi ini diambil dari :
The Liberator (2013)
Canada: A People's History - Documentary (2000)
Gending Sriwijaya (2013)
Lapu-Lapu (2002)
The Legend of Suriyothai (2001)
Naresuan (2007)
Royal Blood (2015)
Horatio Hornblower (1998)
Fanfan La Tulipe (2003)
Mhor Hethren Sork Kandanh (2012)
San Martín. El Combate de San Lorenzo (2008)
Black Sails (2014)
1612 (2007)
Captain James Cook (1987)
1492:Conquest of Paradise (1992)
![Battle on the Ice (German Teutons vs Russian Novgorod)
The Battle on the Ice (Russian: Ледовое побоище; German: Schlacht auf dem Eise) was fought between the Republic of Novgorod led by prince Alexander Nevsky and the crusader army of the Teutonic Knights led by Hermann of Dorpat on April 5, 1242, at Lake Peipus, Present day Russian Border with Estonia & Latvia.
Hoping to exploit Novgorods weakness in the wake of the Mongol and Swedish invasions, the Teutonic Knights attacked the neighboring Novgorod Republic and occupied Pskov, Izborsk, and Koporye in autumn 1240. When they approached Novgorod itself, the local citizens recalled to the city 20-year-old Prince Alexander Nevsky, whom they had banished to Pereslavl earlier that year. During the campaign of 1241, Alexander managed to retake Pskov and Koporye from the crusaders.
On April 5, 1242. Alexander, intending to fight in a place of his own choosing, retreated in an attempt to draw the often over-confident Crusaders onto the frozen lake.the crusader forces likely numbered around 2,600, including 800 Danish and German knights, 100 Teutonic knights, 300 Danes, 400 Germans and 1,000 Estonian infantry.[4] The Russians fielded around 5,000 men: Alexander and his brother Andreis bodyguards (druzhina), totalling around 1,000, plus 2000 militia of Novgorod, 1400 Finno-Ugrian tribesman and 600 horse archers.
The Teutonic knights and crusaders charged across the lake and reached the enemy, but were held up by the infantry of the Novgorod militia. This caused the momentum of the crusader attack to slow. The battle was fierce, with the allied Russians fighting the Teutonic and crusader troops on the frozen surface of the lake. After a little more than two hours of close quarters fighting, Alexander ordered the left and right wings of his army (including cavalry) to enter the battle. The Teutonic and crusader troops by that time were exhausted from the constant struggle on the slippery surface of the frozen lake. The Crusaders started to retreat in disarray deeper onto the ice, and the appearance of the fresh Novgorod cavalry made them retreat in panic.
The Crusaders defeat in the battle marked the end of their Catholic campaigns against the Orthodox Novgorod Republic and other Slavic territories for the next century. The Novgorodians succeeded in defending Russian territory, and the crusaders never mounted another serious challenge eastward. Alexander was canonised as a saint in the Russian Orthodox Church in 1574.In the 1243 treaty between Novgorod and the Teutonic Order signed, where the knights abandoned all claims to Russian lands.
Source :
https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_on_the_Ice Battle on the Ice (German Teutons vs Russian Novgorod)](https://i.ytimg.com/vi/zT9wUHT46kc/mqdefault.jpg)

