Uploaded October 2017 | Updated September 2026, 1 week ago
Ilustrasi perang Kerajaan Perancis (CFIO) melawan Kerajaan Inggris (EIC) di pulau Sumatra
Pada Perang tujuh Tahun dari 1756-1763, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Perancis berperang di 4 Benua (Eropa,Amerika,Asia dan Afrika) baik secara langsung maupun melalui 'perusahaan' dagangnya. Wilayah Indonesia sendiri sebagai pusat Perdagangan rempah turut diperebutkan oleh kedua kerajaan Eropa tersebut. Pada tahun 1760 armada Perancis (Compagnie Française des Indes Orientales - CFIO) pimpinan Jean Baptiste Charles Henri Hector comte d'Estaing meyerang pos-pos milik EIC Inggris di Sumatra, dari Tapian Nauli di Sumatra Utara hingga Krui di Lampung. Republik Belanda sendiri di Eropa menetapkan bahwa mereka Netral dalam perang tujuh tahun ersebut. Namun VOC Belanda di Indonesia lebih condong dalam membantu CFIO Perancis mengalahkan EIC Inggris dengan imbalan pos-pos EIC Inggris yang direbut CFIO Perancis. Setelah bertempur selama 4 bulan, dari Februari hingga Mei, pasukan CFIO perancis yang 3x lebih sedikit jumlahnya dibanding pasukan EIC Inggris yang bertahan di benteng-benteng dapat menggulingkan pasukan Inggris di pesisir barat Sumatra. Bengkulu dengan Fort Marlboroughnya sebagai pusat kekuatan Inggris di Sumatra dapat direbut oleh pasukan CFIO Perancis. Namun setelah perang Tujuh Tahun berakhir, Perancis mengembalikan pos-pos yang didudukinya kepada Inggris.
Sumber :
Bernard Dorléans (2002).Les français et l'Indonésie.Editions Kailash.
Charles Mitchell (2008).Landmark Cases in the Law of Contract.Bloomsbury Publishing.
en.wikipedia.org/wiki/Charles_Henri_Hector_d%27Estaing
lagazzettedebali.info/l-expedition-a-sumatra-et-a-java-de-charles-henri-comte-d-estaing
Ilustrasi perang Kerajaan Perancis (CFIO) melawan Kerajaan Inggris (EIC) di pulau Sumatra
Pada Perang tujuh Tahun dari 1756-1763, Kerajaan Inggris dan Kerajaan Perancis berperang di 4 Benua (Eropa,Amerika,Asia dan Afrika) baik secara langsung maupun melalui 'perusahaan' dagangnya. Wilayah Indonesia sendiri sebagai pusat Perdagangan rempah turut diperebutkan oleh kedua kerajaan Eropa tersebut. Pada tahun 1760 armada Perancis (Compagnie Française des Indes Orientales - CFIO) pimpinan Jean Baptiste Charles Henri Hector comte d'Estaing meyerang pos-pos milik EIC Inggris di Sumatra, dari Tapian Nauli di Sumatra Utara hingga Krui di Lampung. Republik Belanda sendiri di Eropa menetapkan bahwa mereka Netral dalam perang tujuh tahun ersebut. Namun VOC Belanda di Indonesia lebih condong dalam membantu CFIO Perancis mengalahkan EIC Inggris dengan imbalan pos-pos EIC Inggris yang direbut CFIO Perancis. Setelah bertempur selama 4 bulan, dari Februari hingga Mei, pasukan CFIO perancis yang 3x lebih sedikit jumlahnya dibanding pasukan EIC Inggris yang bertahan di benteng-benteng dapat menggulingkan pasukan Inggris di pesisir barat Sumatra. Bengkulu dengan Fort Marlboroughnya sebagai pusat kekuatan Inggris di Sumatra dapat direbut oleh pasukan CFIO Perancis. Namun setelah perang Tujuh Tahun berakhir, Perancis mengembalikan pos-pos yang didudukinya kepada Inggris.
Sumber :
Bernard Dorléans (2002).Les français et l'Indonésie.Editions Kailash.
Charles Mitchell (2008).Landmark Cases in the Law of Contract.Bloomsbury Publishing.
en.wikipedia.org/wiki/Charles_Henri_Hector_d%27Estaing
lagazzettedebali.info/l-expedition-a-sumatra-et-a-java-de-charles-henri-comte-d-estaing








![Perang Banten vs Belanda
Ilustrasi perang Banten mewalan Belanda (Surosowan)
Setelah belanda-VOC melemahkan kekuatan Kesultanan Banten dengan perang saudara pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1683). Dua abad kemudian kekuatan Banten makin melemah karena politik monopoli dan ikut campurnya Belanda dalam urusan kesultanan Banten, baik politik maupun ekonomi. Namun kesultanan Banten masih memiliki kedaultan terhadap Belanda, meskipun minim. Pada 1808, Belanda dijajah oleh kekaisaran Napoleon Perancis, dan ditunjuklah Marsekal Perancis asal Belanda, Daendels untuk mempersiapkan pulau Jawa dari serangan Inggris. Belanda sejak lama ingin menghilangkan kesultanan Banten karena letaknya yang dekat dengan Batavia (Jakarta) dan menjadi momok bagi kekuasaan Belanda. Namun Belanda dan Banten juga terikat perjanjian serta kekuatan kesultanan Banten belum sepenuhnya pudar. Pada 21 November 1808, Belanda mengirim utusan Pierre Philip Du Puy, ke Sultan Banten Aliyuddin II (Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin) dengan permintaaan yang pasti ditolak Sultan, yaitu menyediakan tenaga kerja rodi untuk pembangunan jalan Groote-Postweg dan pelabuhan baru di Ujung Kulon (yang berarti kerja sampai mati bagi rakyat Banten) serta memindahkan ibukota kesultanan dari Banten ke Anyer (menghilangkan jejak kesultanan yang telah berdiri 3 abad di kota banten), Sultan geram dan menghukum Du Puy. Penolakan dan hukuman terhadap Du Puy dimanfaatkan oleh Daendels yang mengerahkan kekuatan Belanda yang telah bersiaga di Serang untuk menyerang Banten. Rakyat dan tentara kesultanan Banten melawan dengan sengit mempertahankan kota Banten dan benteng-keraton Surosowan dan Kaibon. Pertarungan sengit terjadi hari itu, meriam keraton beradu dengan meriam Belanda. Namun pasukan Belanda lebih banyak dengan persenjataan lebih canggih mengungguli pasukan Banten. Keraton Surosowan beserta kota Banten dihancurkan, hanya bersisa Masjid Agung Banten dan Benteng Speelwijk. Sultan Aliyuddin II beserta keluarganya ditangkap dan dibuang ke Ambon hingga wafat. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan wilayah kesultanan Banten telah masuk sepenuhnya ke dalam kekuasaan Belanda.
[dari Berbagai Sumber]
Klip diambil dari :
Max Havelaar (1976)
Legend of King Naresuan (2007)
Napoleon (2002)
Davy Crockett (1955)
The LIberator (2013)
1612 (2007)
Legend of Tsunami Warrior (2008)
Glory (1989)
Sharpees Battle (1995)
Legend of Suriyothai (2001)
Waterloo (Documentary)
Alamo Documentary
Bang Rajan 1 & 2
BBC Krakatoa Documentary
Battle of Derne Documentary Perang Banten vs Belanda](https://i.ytimg.com/vi/xRgP3ytgdrA/mqdefault.jpg)
![Sejarah Papua di Nusantara
Ilustrasi Sejarah Papua di Nusantara
+- 700 M -
Papua dan pulau-pulau di sekitarnya menjadi bagian dari jaringan perdagangan zaman kerajaan Sriwijaya dengan komoditas utama burung dan bulu cendrawasih dan Kayu Cendana [2][1]
Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman (702–728 M) menghadiakan burung Cendrawasih/burung Jenggi/FengHuang(鳳凰) kepada Kaisar Dinasti Tang di China. [1]
+- 800 M
Pedagang arab, india dan China mulai berdatangan dari maluku dalam rute perdagangan ke China. [4]
Mereka menyebut papua wakwak di Timur (fakfak) dekat dengan negeri zabag (sriwijaya).[4][5][11]
Selain bulu cendrawasih, pedagang asia juga membeli emas kualitas terbaik dari orang wakwak di timur (fakfak).[4]
1138 M -
Pulau Papua (diberi nama gezira zangi/Jazirah Zanji) muncul dalam peta dunia Tabula Rogeriana .[6][7][9]
Papua disebut Zanji karena oleh pedagang arab karena mirip dengan penduduk Afrika Timur (Zanzibar)[8]
1365 M - Kitab Majapahit, Negarakertagama, menyebutkan Wanin (Onin/fakfak) di Papua menjadi bagian dari jaringan Majapahit. [12]
1545 M - Yñigo Ortiz de Retez dari Spanyol menamai Papua Nueva Guinea(New Guinea) karena mirip dengan penduduk Guinea, Afrika.[13]
1570 M - Daerah Raja Ampat, Fakfak dan Pesisir Papua ikut dalam persekutuan 9 bersaudara (Uli Siwa) pimpinan Tidore.[14]
1660 M - VOC Belanda mengakui kedaulatan Tidore atas Papua[15]
1783 M - Rakyat Papua di Raja Ampat berhasil membajak kapal VOC Tempel pimpinan Coenraad Van Dijk di Pulau Batanta [16]
1796 M - Bersama Kaicil Nuku dari kerajaan Tidore, kerajaan di Papua Barat mengadakan perlawanan terhadap VOC dan sukses mengusir VOC dari Papua dan Maluku.[16]
1810 M - Belanda (dibawah Perancis) kalah perang dengan Inggris di Maluku dan Papua, sumatra hingga papua dijajah inggris.[17][18]
1817 M - Setelah perjanjian Paris tahun 1814, Inggris menyerahkan Nusantara ke Belanda.[17]
1828 M - Belanda mendirikan benteng pertamanya di tanah Papua, Fort Du Bus. [19]
1833 M - Bajak Laut Papua menggangu perdagangan Kolonial Belanda di Kepualaun Maluku dan Laut Arafuru.[20]
1836 M - Belanda meninggalkan Fort du Bus akibat serangan warga dan wabah Malaria.[19]
1848 M - Kolonial Belanda melakukan klaim atas papua bagian barat sebagai bagian dari wilayahnya yang diambil dari raja Tidore.[18]
1895 M - Belanda mulai menancapkan pengaruhnya di Papua [21]
1910 M - Untuk mengawasi Jerman di Papua Nugini, Belanda bergerak ke timur dan mendirikan kota Hollandia (skrg Jayapura) di Numbai, Kayupulo.
Sumber :
[1] Pamela Swadling (1996). Plumes of Paradise: Trade Cycles in Outer Southeast Asia and Their Impact on New Guinea and Nearby Islands Until 1920.Papua New Guinea National Museum.
[2] Kathleen D. Morrison, Laura L. Junker (2002) Forager-Traders in South and Southeast Asia: Long-Term Histories. Cambridge University Press.
[3] Bilveer Singh (2017) Papua: Geopolitics and the Quest for Nationhood.Routledge.
[4] M. Th Houtsma,Russel Arnold,Gibb Camilla (1993).First Encyclopaedia of Islam: 1913-1936.E.J.BRILL.
[5] Meri,Josef W.; Bacharach, Jere (2005). Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia. Routledge.
[6] Scott, Samuel Parsons (1904).History of the Moorish Empire in Europe.Lippincott,Philadelphia.
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Tabula_Rogeriana / https://en.wikipedia.org/wiki/Tabula_Rogeriana
[8] M. Elfasi, Ivan Hrbek (1988).Africa from the Seventh to the Eleventh Century.UNESCO.
[9] Houben, Hubert (2002). Roger II of Sicily: A Ruler Between East and West. Cambridge University Press.
[10] Raymond Mauny (1965) The Wakwak and the Indonesian Invasion in East Africa in 945 A.D.Centro de Estudos Historicos Ultramarinos.
[11] Friedrich Hirth (2017).China and the Roman Orient: Researches Into Their Ancient and Medieval Relations as Represented in Old Chinese Records (Classic Reprint-1911).Fb&c Limited,
[12] I Ketut Riana (2009).Kakawin dēśa warṇnana, uthawi, Nāgara kṛtāgama: masa keemasan Majapahit.Penerbit Buku Kompas.
[13] David Armitage(2014).Pacific Histories: Ocean, Land, People.Palgrave Macmillan.
[14] Johan Gerard Friedrich Riedel(1886).De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua.M. Nijhoff.
[15] David Pickell (2013).Indonesian New Guinea Adventure Guide: West Papua/Irian Jaya.Tuttle Publishing.
[16] Muridan S.W (2009).The Revolt of Prince Nuku: Cross-Cultural Alliance-making in Maluku, C.1780-1810.BRILL.
[17] William G. Martin (2015).Making Waves: Worldwide Social Movements, 1750-2005.Routledge.
[18] Charles Arnold-Baker(2015).The Companion to British History Front Cover Charles Arnold-Baker.Routledge.
[19] Keat Gin Ooi(2004).Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor.ABC-CLIO.
[20] The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Volume 4.Kraus Reprint, 1850.
[21] Robert Cribb (2013).Historical Atlas of Indonesia.Routledge.
[22] Herman Renwarin (1984).Sejarah sosial daerah Irian Jaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Papua di Nusantara](https://i.ytimg.com/vi/xdkPhGA6qzo/mqdefault.jpg)
