Foto Galaksi Bima Sakti Jakarta 2020 @ObengwareID
Foto Galaksi Bima Sakti Jakarta 2020  @ObengwareID
Uploaded June 2025 | Updated September 2026, 2 weeks ago
Mengabadikan Keindahan Bima Sakti di Atas Langit Jakarta: Mungkinkah?

Jakarta, dengan gemerlap lampu kota yang tak pernah padam, seringkali dianggap sebagai lokasi yang mustahil untuk mengamati, apalagi memotret, keindahan Bima Sakti. Polusi cahaya yang masif menjadi tantangan utama. Namun, bagi para fotografer astrofotografi yang gigih, bukan berarti impian mengabadikan galaksi kita di atas lanskap ibu kota ini sepenuhnya pupus. Artikel ini akan membahas tantangan dan tips untuk mencoba mewujudkan foto Bima Sakti di atas kota Jakarta.

Tantangan Utama: Polusi Cahaya
Polusi cahaya adalah musuh utama astrofotografi perkotaan. Langit Jakarta yang terang benderang oleh jutaan lampu membuat bintang-bintang redup menjadi tidak terlihat. Untuk memotret Bima Sakti, Anda membutuhkan langit yang benar-benar gelap, yang hampir mustahil ditemukan di dalam kota Jakarta itu sendiri. Skala Bortle untuk Jakarta diperkirakan berada pada level 8 atau 9, yang menunjukkan langit yang sangat tercemar cahaya.
Strategi dan Tips untuk Mencoba

Meskipun sulit, ada beberapa strategi yang bisa Anda coba untuk meningkatkan peluang Anda mendapatkan foto Bima Sakti di atas kota Jakarta, meskipun dengan hasil yang mungkin tidak sejelas di lokasi yang lebih gelap:

1. Pilih Lokasi yang Tepat
Langit yang benar benar bersih, dengan tanda banyak bintang dan camera harus mengarah ke atas
Jangan bersinggungan dengan gedung dan cahaya lampu.
Foto yang dibuat tidak akan menampilkan cahaya yang super redup.
Pastikan lokasi galaksi Bima Sakti dengan aplikasi Astronomi

2. Waktu adalah Segalanya
Musim Kemarau: Pilih waktu saat musim kemarau (sekitar bulan Juni hingga September di Indonesia). Langit cenderung lebih cerah dan sedikit awan.
Fase Bulan Baru: Ini wajib. Pastikan memotret saat bulan baru (new moon), yaitu ketika bulan tidak terlihat di langit malam. Cahaya bulan dapat dengan mudah mengalahkan cahaya Bima Sakti.
Waktu terbaik biasanya antara pukul 23.00 hingga 03.00 dini hari, tergantung musim dan posisi Bima Sakti. Jangan lupa, gunakan aplikasi seperti PhotoPills, Stellarium dan lainnya.
Karena anda tidak pernah dapat melihat dimana posisi galaksi berada.

3. Peralatan yang Tepat
Kamera dengan Sensor terbaik, tidak juga: Kamera full-frame dengan performa ISO tinggi akan memberikan hasil terbaik. Namun, kamera APS-C modern juga bisa digunakan.
Foto yang dibuat ini mengunakan lensa camera standar dengan camera lama Nikon D5100 edisi tahun 2011
Lensa Sudut Lebar (Wide-Angle Lens) dan lensa cepat (Fast Lens)
Memudahkan anda mengabadikan garis Bima Sakti lebih jelas.
Terlebih dapat menurunkan tingkat ISO, atau waktu shutter camera lebih pendek.
Dengan lensa standar, anda harus mengabadikan dengan durasi membuka lensa sampai 20 detik lebih perfoto.
Lensa dengan aperture besar (f/2.8 atau lebih rendah) sangat direkomendasikan. Contohnya: 14mm f/2.8, 24mm f/1.4, atau 16-35mm f/2.8. Lensa sudut lebar memungkinkan Anda menangkap bentangan Bima Sakti yang luas.
Tripod Kokoh: Penting untuk menghindari guncangan kamera selama exposure panjang.
Anda tidak harus duduk menunggu di depan camera, karena kamera dapat mengambil dengan durasi lama bahkan berjam jam. Jadi biarkan camera berada di tripod untuk mengabadikan gambar.

Baterai Cadangan: Long exposure menguras baterai dengan cepat.
Setiap sesi mungkin akan menghabiskan baterai camera, jadi siapkan baterai cadangan bila anda ingin terus membuat foto sampai pagi hari.

4. Pengaturan Kamera (Pengaturan Awal)
Ini penting.
Ketika anda mengarahkan camera ke atas langit.
Pastikan lensa memfokus pada objek di salah satu bintang. Atau set di lensa dengan infinity
Pengalaman saya pribadi, kesalahan fokus lensa atau salah fokus, malah tidak menghasilkan apapun. Walau camera sudah bekerja selama 2 jam hanya untuk mendapatkan 200 foto galaksi.
Hasilnya, tentu saja foto tidak ada gunanya.

Mode Manual (M): Ambil kontrol penuh atas pengaturan kamera.
Format RAW: Selalu potret dalam format RAW untuk fleksibilitas maksimal dalam pasca-pemrosesan.
Aperture: Buka lebar-lebar (misal: f/2.8 atau f/4) bila mengunakan lensa cepat
ISO: Mulai dari ISO 3200-6400.
Shutter Speed: Gunakan aturan 500 untuk menghindari star trailing. Bagi 500 dengan panjang fokal lensa Anda (contoh: 500/14mm = 35 detik). Jadi, sekitar 20-30 detik adalah titik awal yang baik.
White Balance: Atur ke Kelvin, sekitar 3500-4500K, atau biarkan Auto dan sesuaikan di pasca-pemrosesan.

5. Pasca-Pemrosesan (Post-Processing)
Noise pada hasil foto ISO tinggi adalah hal biasa, ditambah long exposure akan membuat foto anda blank putih.
Tapi itulah hasil foto yang akan di proses.
Diperlukan proses seperti editing dengan program Lightroom, atau progam khusus untuk foto astronomi.
Pasca-pemrosesan adalah bagian krusial dari astrofotografi, terutama di lingkungan yang tercemar cahaya.
Jadi jangan khawatir foto anda harus berbintik (noise), mungkin itu salah satu bagian dari bintang yang seharusnya ada di foto anda.
Foto Galaksi Bima Sakti Jakarta 2020Internet lambat masalah WIFI atau kabel LAN Ethernet Cat5e Cat6 paket internet 150mbpsFix speed WiFi 4 WiFi 5 and how to set channel settingAndroid TV Box Amlogic S905X2 modification heatsink cooling prevent overheatingAndroid TV Insufficient Storage Space internal memory penuh di Android TVBoot Windows NVMe PCIe SSD slot VGA PCIe 2.0 PCIe 3.0 lebih cepat dari SATA SSDRepair Samsung Washing Error  power On works immediatelyRepair Headphone CushionThe maximum length of an ESP Arduino to sensor wire RX TX vs SDA SCL 2 meters 10 meters or moreHow to install Deepcool GAMMAXX 400S more easy with special bracketMini 360  MP2307DN Step Down DC to DC range 1.7V - 17VWAU Manager Control Windows Update Pause Select Hidden
Obengplus com |

Foto Galaksi Bima Sakti Jakarta 2020

SHARE TO X SHARE TO REDDIT SHARE TO FACEBOOK WALLPAPER