Kraton JogjaDengan semangat menebarkan cinta budaya, kami Mataya Flash Mob KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta ingin mengajak kamu semua untuk dapat menari bersama. Harapannya, ragam gerak tari ini dapat dikenal oleh masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Berikut kami sajikan tutorial singkat ragam gerak tari kapi (kera) yang kami gunakan saat Flash Mob. ... Kami akan hadir untuk terakhir kali besok Sabtu, 6 Juli 2019 pukul 19.30 di Kampung Mataraman dan kamu bisa ikut berpartisipasi. Caranya cukup pelajari video tutorial ini, kemudian datang ke lokasi dengan busana kasual beserta sepatumu, dan menari bersama kami Mari bersama nguri-uri budaya agar merasa lebih memiliki. ... Sampai jumpa 4 hari lagi! ~~ Jangan lupa saksikan pementasan kami dengan lakon Subali Lena dalam event Catur Sagatra, Sabtu (13/07) di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Terbuka untuk umum.
TUTORIAL MATAYA FLASH MOB (MFM) KHP Kridhomardowo Keraton YogyakartaKraton Jogja2019-07-02 | Dengan semangat menebarkan cinta budaya, kami Mataya Flash Mob KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta ingin mengajak kamu semua untuk dapat menari bersama. Harapannya, ragam gerak tari ini dapat dikenal oleh masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Berikut kami sajikan tutorial singkat ragam gerak tari kapi (kera) yang kami gunakan saat Flash Mob. ... Kami akan hadir untuk terakhir kali besok Sabtu, 6 Juli 2019 pukul 19.30 di Kampung Mataraman dan kamu bisa ikut berpartisipasi. Caranya cukup pelajari video tutorial ini, kemudian datang ke lokasi dengan busana kasual beserta sepatumu, dan menari bersama kami Mari bersama nguri-uri budaya agar merasa lebih memiliki. ... Sampai jumpa 4 hari lagi! ~~ Jangan lupa saksikan pementasan kami dengan lakon Subali Lena dalam event Catur Sagatra, Sabtu (13/07) di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Terbuka untuk umum.Maklumat Keistimewaan Yogyakarta - Merawat Keistimewaan, Menjaga Kehormatan BangsaKraton Jogja2026-09-05 | Sarasehan Budaya Maklumat Keistimewaan Yogyakarta: Merawat Keistimewaan, Menjaga Kehormatan Bangsa
Sabtu, 5 September 2026 Pukul 13.30 - 17.00 WIB Lokasi: Ndalem Poenakawan Cafe Resto & Gallery Jalan KH Ahmad Dahlan 71, Yogyakarta
Dresscode: busana bebas rapi sopan (bukan kaos oblong)
#KratonJogja #Sarasehan #Amanat5September #MaklumatKeistimewaanYogyakartaTamanan Seri ke-61: Belajar Memperkenalkan DiriKraton Jogja2026-08-31 | Wewanuhan atau memperkenalkan diri dalam bahasa Jawa merupakan bagian mendasar dari tata krama dan etika pergaulan. Melalui proses perkenalan, anak-anak tidak hanya belajar menyampaikan identitas dasar—seperti nama (nami/asma), usia (yuswa), dan tempat asal (asal kitha)—tetapi juga diajak memahami pentingnya menyapa dengan santun dan ramah (ngremenaken). Meskipun zaman terus berkembang, pembiasaan wewanuhan berbahasa Jawa tetap relevan sebagai pembentuk identitas budaya sekaligus penanaman unggah-ungguh luhur sejak usia dini. Aktivitas belajar memperkenalkan diri ini bukan sekadar keterampilan berbicara, melainkan sarana stimulasi komprehensif bagi tumbuh kembang anak, mencakup dimensi kognitif, kebahasaan (literasi), hingga sosial-emosional. Secara kebahasaan dan kognitif, anak diajak mengasah daya ingat, artikulasi, dan pemahaman kosakata baru melalui kalimat pernyataan maupun pertanyaan interaktif secara bertahap. Pada aspek sosial-emosional, latihan memperkenalkan diri melatih keberanian tampil percaya diri, kemampuan menyimak secara aktif, serta membangun keterampilan sosial awal untuk menjalin pertemanan baru dengan penuh kehangatan.
Simak video edukasi selengkapnya melalui kanal YouTube: Kraton JogjaPembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW - Kondur Gangsa Sekaten Be 1960/2026Kraton Jogja2026-08-25 | Malam hari tanggal 12 Mulud, bertepatan pada Selasa (25/08), Keraton Yogyakarta menggelar puncak perayaan Sekaten.
Rangkaian upacara tersebut diawali dengan Miyos Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 beserta para Putra Dalem & Mantu Dalem. Ingkang Sinuwun terlebih dahulu menyebar udhik-udhik di Pagongan Kidul dan Pagongan Lor kemudian menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe dan menyebar udhik-udhik untuk Abdi Dalem Suranatan. Agenda berikutnya adalah pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di serambi Masjid Gedhe. Setelah mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, Sri Sultan Jengkar kembali ke keraton.
Berbeda dari prosesi sebelumnya, tahun ini Gamelan Sekati tidak ditabuh hingga tengah malam. Namun akan langsung kembali/kondur ke dalam keraton tepatnya di Bangsal Trajumas melalui upacara Kondur Gangsa, tepat setelah Sinuwun Jengkar dari Masjid Gedhe.
Sahabat dapat menyimak pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW. pada tayangan siaran langsung berikut. Selamat menyaksikan~
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja
#KratonJogja #KondurGangsa #PembacaanRiwayatNabiMuhammadSAW #HajadDalemSekatenBe1960 #Sekaten2026Beksan Golek Layung Seta Uyon-Uyon Hadiluhung Sapar Be 1960 / 20 Juli 2026Kraton Jogja2026-07-20 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 setiap Malam Selasa Wage, sasi Sapar Be 1960 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pada Senin Pon 20 Juli 2026, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Beksan Golek Layung Seta. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00.
Sinopsis Beksan Golek Layung Seta Beksan Golek Layung Seta diciptakan sekitar tahun 1906 yang hamoir bersamaan dengan Golek Gambir Sawit dan Golek Kutut Manggung. Golek Layung Seta diciptakan di Ndalem Wirogunan oleh KRT. Wiraguna putra dari KGPA. Mangkubumi. Tidak jauh berbeda dengan Golek Jangkung Kuning dan Golek Kutut Manggung, Golek ini dahulunya ditarikan oleh seorang sindhen yang memiliki kemampuan menari. Golek Layung Seta menggambarakan tingkah laku seorang perempuan yang sedang bersolek dengan perasaan yang gembira karena kasmaran yang menimpa dirinya. Keunikan dari Golek Layung Seta terletak pada banyaknya menggunakan ragam Nggrudha, sebab pada kebar sebelum ragam pokok pasti diawali dengan ragam nggrudha.
Sajian tari Beksan Golek Layung Seta ini dibawakan oleh 5 orang penari dengan menggunakan busana gladhen.
Pamucal Beksa Nyi MW. Widya Wahyu Budaya Nyi Ry. Haskaraningrum[SIARAN TUNDA] Konser Yogyakarta Royal Orchestra Gregah NusaKraton Jogja2026-06-21 | Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menyelenggarakan konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dengan tajuk “Gregah Nusa”. Tajuk “Gregah Nusa” dipilih sebagai simbol dalam membangkitkan kesadaran kolektif bangsa melalui musik sebagai bagian dari kebudayaan. Konser yang digelar pada Sabtu (16/5/2026) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat menampilkan keberagaman musikal Nusantara dalam balutan orkestra modern dan instrumen tradisi.
Menampilkan : Conductor, MB Manggalawaditro Solo Violin, MJ Cakrawaditro Solo Cello, Raden Dwityatama Dharmasakti Solo Vokal, Ndaru Ndarboy Genk Sindhen & Cokekan Kawedanan Kridhamardawa Yogyakarta Royal Choir Yogyakarta Royal Orchestra
Pada kesempatan ini, berkaitan dengan Ulang Tahun ke-5 Yogyakarta Royal Orchestra sekaligus partisipasi Yogyakarta Royal Orchestra secara daring pada gelaran Festival Orkesta Kuala Lumpur 2026, siaran tunda perdana (premiere) konser Gregah Nusa bisa Sahabat Kraton Jogja nikmati pada: Minggu, 21 Juni 2026 pukul 19.00 WIB dan pukul 8.00 pm waktu Malaysia Premiere di kanal YouTube Kraton Jogja, Orkestra Kuala Lumpur, dan Dewan Bandaraya Kuala Lumpur
Selamat menyaksikan bagi Sahabat yang belum berkesempatan hadir secara langsung, dan selamat bernostalgia kembali bagi Sahabat yang hadir langsung pada konser Gregah Nusa! ____ Daftar Repertoar 1. Jenang Gula (sindhen & cokekan) 2. Concerto Kidung Pamuji Movement I & II (solo violin, MJ. Cokrowaditro) 3. Indonesia Pusaka (Solo Cello, Raden Dwityatama Dharmasakti) 4. Medley Swara Suling dan Menthok-Menthok 5. Lela Ledhung (sindhen & cokekan) 6. Lanang Tenan (solo vokal, Ndaru Ndarboy Genk) 7. Indonesia Bakoh (solo vokal, Ndaru Ndarboy Genk) 8. Sikep (solo vokal, Ndaru Ndarboy Genk) Encore : Koyo Jogja Istimewa (solo vokal, Ndaru Ndarboy Genk)
__________ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja X: @kratonjogja Tiktok: @kratonjogja.id Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.id
#GregahNusa #YogyakartaRoyalOrchestra #KonserYogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogja #FestivalOrkestraKualaLumpur #FOKL2026Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan Jaya Berdangga 1 Sura Be 1960 / 16 Juni 2026Kraton Jogja2026-06-16 | Dalam rangka memperingati Tahun Baru pada Kalender Jawa 1 Sura Be 1960, Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mempersembahkan: Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan “Jaya Berdangga” dengan Dalang: MB. Cermo Wignyoutomo
Lampahan ini menceritakan tentang upaya penyamaran Raden Panji dalam mencari syarat permintaan istrinya yang sedang mengandung yaitu ‘Sari Swara Renggani Jagad’ yang terus dilakukan demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri. Banyak godaan dan rintangan yang datang di Keraton Kediri karena ulah para senopati dari negara seberang, mulai dari menghalangi upaya Raden Panji, hingga memberanikan diri meminang Dewi Sekartaji. Atas kegigihan Raden Panji dalam upaya penyamarannya, syarat permintaan tersebut dapat terpenuhi bersamaan lahirnya bayi laki-laki yang dikandung Dewi Sekartaji.
Pementasan Wayang Gedhog kali ini dapat disaksikan secara langsung dari Kagungan Dalem Kamandungan Kidul, maupun live streaming melalui kanal YouTube Kraton Jogja pada:
Selasa, 16 Juni 2026 Pukul 19.00 - 23.00 WIB
Acara ini juga terbuka untuk UMUM (tidak perlu reservasi) dan tidak perlu menggunakan busana khusus (cukup berbusana bebas rapi sopan).
____ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja X: @kratonjogja Tiktok: @kratonjogja.id Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Website: kratonjogja.id
#KratonJogja #RinggitGedhog #1SuraBe1960 #WayangKulit #eventkratonjogjaBeksan Kasetyan Jati Uyon-Uyon Hadiluhung Besar Dal 1959 / 15 Juni 2026Kraton Jogja2026-06-15 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 setiap Malam Selasa Wage, sasi Besar Dal 1959 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pada Senin Pon 15 Juni 2026, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Beksan Kasetyan Jati. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00. Sinopsis Beksan kasetyan Jati
Beksan Kasetyan Jati mengangkat kisah kesetiaan, dharma, dan pengabdian dua abdi setia Prabu Aji Saka yaitu, Dora dan Sembada. Dikisahkan Prabu Aji Saka datang ke tanah Jawa untuk menumpas angkara murka Prabu Dewata Cengkar yang menebarkan ketakutan di Medang Kamulan. Dengan kebijaksanaan dan kesaktiaannya, Aji Saka berhasil membawa kedamaian dan peradaban bagi masyarakat Jawa.
Sebelum keberangkatannya, Aji Saka menitahkan Sembada untuk menjaga pusaka kerajaan dan melarang siapa pun mengambilnya selain dirinya sendiri. Setelah kemenangan diraih, Dora diutus untuk mengambil pusaka tersebut. Namun Sembada tetap teguh memegang amanat sang Prabu. Perbedaan tafsir terhadap tah raja menjadikan keduanya terlibat dalam perselisihan yang berujung pada perang tanding. Dengan kekuatan yang seimbang, Dora dan Sembada gugur bersama demi mempertahankan kesetiaan dan kehormatan pengabdian.
Sebagai penghormatan terhadap pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan aksara Jawa yang memiliki makna mendalam.
Ha Na Ca Ra Ka Ana utusan (Ada utusan) Da Ta Sa Wa La Padha kekerengan (Saling berselisih) Pa Dha Ja Ya Nya Padha didhayane (Sama-sama sak ) Ma Ga Ba Tha Nga Padha dadi bathange (Sama-sama menjadi mayat)
Sajian tari Beksan Kasetyan Jati ini memiliki konsep beksan sekawanan. Tarian ini dilakukan oleh delapan orang penari yang dibagi menjadi Rakit 1 dan Rakit 2. Empat penari (Rakit 1) berperan sebagai tokoh Dora dan Sembada, kemudian empat penari lainnya (Rakit 2) merepresentasikan ‘pusaka’ Aji Saka dalam cerita tersebut. Beksan Kasetyan Jati memiliki urutan majeng gendhing (awal tarian), enjeran (persiapan perang), perang, dan mundhur gendhing (akhir tarian). Pada bagian perang, tokoh Dora dan Sembada menggunakan senjata dhuwung (keris). Tokoh Dora dan Sembada diceritakan memiliki sifat setia, jujur, dan amanah. Karakter ini diterapkan dalam ragam gerak kalang kinantang. Ragam gerak ini menggambarkan penokohan yang gagah, berwibawa namun tetap lincah dan luwes. Pada penggunaannya, karakter gerak ini ditujukan untuk tokoh ksatria, prajurit, atau panglima perang yang memerlukan gerakan yang lebih tegas, energik, dan berkarakter kuat.
Produser : MB. Harismatoyo & MB. Srikawuryan Pamucal Beksa : R.Ry. Dwijosoeharto, R.Ry. Wijoyopadmo, dan MB. Reksomatoyo Penata Gendhing : MRy. Susilomadyo Pembaca Kandha : RRy. Dwijosuharto Keprak Penata Busana : MRy. Dirja Manggolo Koordinator Wiyaga : MJ. Bangunsore MC : MB. Cermo WaconoTamanan Seri ke-58: Panduan Bermain Gobag Sodor subKraton Jogja2026-06-02 | Gobag Sodor merupakan warisan permainan rakyat yang digemari, terutama di tanah Jawa. Nama permainan ini mengandung makna filosofis; Gobag berarti bergerak dengan leluasa, dan Sodor yang berarti tombak, mencerminkan ketangkasan gerak maju-mundur layaknya prajurit yang sedang berlatih. Meskipun zaman terus berganti, Gobag Sodor tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya yang mengajarkan nilai ketangkasan dan kekompakan kepada anak-anak lintas generasi. Permainan ini bukan sekadar hiburan, melainkan media stimulasi yang komprehensif bagi tumbuh kembang anak, mencakup dimensi kognitif, fisik-motorik, hingga kematangan sosial-emosional. Dari kacamata motorik, aktivitas berlari dan menghindar dalam permainan ini efektif untuk mengasah kemampuan proprioseptif, yaitu kesadaran akan posisi tubuh, serta memperkuat sistem vestibular demi mencapai keseimbangan optimal anak. Secara kognitif, anak ditantang untuk merancang strategi tim yang cerdas agar dapat menembus garis pertahanan lawan secara taktis. Sementara itu, pada aspek sosial-emosional, Gobag Sodor mengajarkan arti kerja sama, komunikasi yang efektif, serta sikap sareh atau tenang dalam menghadapi situasi sulit di lapangan. Melalui seri edukasi ini, Keraton Yogyakarta mengajak para orang tua dan pendidik untuk menghidupkan kembali dolanan tradisional sebagai sarana belajar yang nyata bagi anak. Di tengah kepungan teknologi, Keraton Yogyakarta juga mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam memfasilitasi gawai bagi anak usia dini. Sejalan dengan rekomendasi kesehatan global (AAP), durasi menonton video bagi anak-anak sebaiknya dibatasi maksimal satu jam per hari dengan pendampingan penuh, sementara bagi anak di bawah usia dua tahun, interaksi langsung tanpa layar tetap menjadi prioritas utama. Selama pendampingan, orang tua dapat mengajak anak berinteraksi tentang video edukasi yang baru saja dilihat. Interaksi antara keduanya dapat dibangun dengan mengajukan pertanyaan atau diskusi dan praktik, sehingga terjadi proses timbal balik. Proses pendampingan orang tua dalam setiap kegiatan belajar dan tumbuh kembang anak menjadi salah satu kunci keberhasilan pengasuhan.
Simak video edukasi selengkapnya melalui kanal YouTube: Kraton JogjaBeksan Wiramandrawa Uyon-Uyon Hadiluhung Dulkangidah Dal 1959 / 11 Mei 2026Kraton Jogja2026-05-11 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 setiap Malam Selasa Wage, sasi Dulkangidah Dal 1959 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pada Senin Pon 11 Mei 2026, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Beksan Wiramandrawa. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00.
Sinopsis Beksan Wiramandrawa Beksan Wiramandrawa merupakan Yasan Dalem enggal, berciri bedhayan dengan ragam jogedan putra alus, mengambil cerita dari serat Babad yang secara spesifik menerangkan 4 orang pemimpin perang yang diutus Sultan Agung menyerang VOC di Batavia pada penyerangan yang pertama yaitu tanggal 22 Agustus 1628. Mereka adalah Ki Tumenggung Baureksa, Ki Tumenggung Sura Agul Agul, Kanjeng Pangeran Mandurejo dan Adipati Upasanta. Penggambaran persiapan penyerangan dengan berbaris layaknya prajurit Mataram saat itu ada pada bagian rakit gelar dan dilanjutkan peperangan dua kubu dari serdadu VOC dan prajurit Mataram menggunakan properti pistol berjenis revolver. Pada akhirnya prajurit Mataram mengalami kekalahan diakibatkan oleh kekurangan bahan makanan yang telah dibakarnya lumbung-lumbung penyetok bahan makanan oleh serdadu VOC sehingga prajurit Mataram lemah dan dapat dipukul mundur oleh serdadu VOC. Namun di dalam isi gerongan bedhayannya tetap dibuat cerita bahwa kemenangan diperoleh para prajurit Mataram. Hal ini supaya tetap memuliakan perjuangan Pahlawan Nasional Sultan Agung/Prabu Hanyakrakusuma tersebut. Penampilan Beksan Wiramandrawa ini di dukung oleh Paraga Patuh : Endhel : MB Budimatoyo Endhel wayang : Tirta Wahyu Pratama Tuntunan : R Bagas Dwitiya Yogiswara Batak : Dwiky Awang Kusuma Jati Batak wayang : Firdaus Aryasatya Jangga : Oke Bimantara Sakti Jaja : Lucky Baharsyah Apit ngajeng : RM Swandaru Jose Andra Masaro Apit wingking : Moreno Arya Kamandanu Aldiyanto Buntil : Afrizal Dian Paraga Bela : Restu Hendry Pratama Lindan Marpratama Nursanto Farid Nur Wahyudi Penggarap Teknis :
Pamucal Beksa : R Riyo Rogomurti Penata Gending : M Riyo Susilomadyo Pembaca Kandha : Mg Ahmad Hafizh Rasyad Keprak : RW Rogomurti Pengarah Visual : MJ Bangunsore Pangarsa Palakerti : MB Ronggojati Koordinator Wiyaga : MJ SembunggilangUNTUKMU KARTINIKU WARAWADITRA: Women Orchestra Concert - Yogyakarta Royal OrchestraKraton Jogja2026-04-21 | Dalam Rangka memperingati Hari Kartini 2026, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mempersembahkan:
UNTUKMU KARTINIKU Konser Warawaditra Women Orchestra Concert - Yogyakarta Royal Orchestra
Menampilkan: Conductor, Nyi ML Dwijashintawai Solo Violin, Riana Heath Solo Trumpet, Tutty Zefanya Sianturi Solo Gitar, Victoria Ilona Asandra Solo Piano, Rachel Nadia Abiela Solo Vokal, Win Yovina Thopandi Yogyakarta Royal Orchestra dan Choir Cokekan Putri Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Selasa, 21 April 2026 Pukul 19.00 WIB - selesai Kagungan Dalem Gedhong Sasono Hinggil Dwi Abad Live Streaming via kanal Youtube Kraton Jogja
Susunan Repertoar:
Ibu Kita Kartini Ibu Pertiwi Melati Di Tapal Batas Lela Ledhung (Mengiringi Peragaan Busana) Langgam Wanita Utama (Mengiringi Peragaan Busana) Langgam Putri Mataram (Mengiringi Peragaan Busana) Jenang Gulo (Mengiringi Peragaan Busana) Melati Suci Concerto Pertiwi Pantang Mundur Ibu Kita Kartini
#WARAWADITRA #YogyakartaRoyalOrchestra #YROWarawaditraChallenge #UntukmuKartiniku #KratonJogjaSIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat” - SESI 2Kraton Jogja2026-04-10 | SESI 2
Berikut kami sampaikan daftar pembicara untuk sesi POLITIK HUKUM DAN PEMERINTAHAN dengan moderator Wawan Mas'udi, S.IP., M.P.A., Ph.D.
Pemantik Diskusi: Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, M.A. – Universitas Indonesia
- Paper 1: Dari Pengadilan Pradata Menuju Perdata: Perkembangan Sistem Hukum Kasultanan Yogyakarta di era Hindia Belanda - Dr. Waskito Widi Wardojo, SS, MA - Paper 2: Cultural Diplomacy and Governance; The Pepatih Ndalem’s Role in Promoting - Welda Sana Vero, S.Hum, MA - Paper 3: Pembicara tamu Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia - Prof. Dr.Drs. Akmal Malik, M.S
--- Ikuti berita seputar Kraton Jogja melalui media sosial berikut ini: FB page, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.idSIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta HadiningratKERATON UPDATEKraton Jogja2026-04-10 | SESI KERATON UPDATE
Kesempatan istimewa ketika Sri Sultan Hamengku Bawono ka10 mengenang perjalanan mengidupkan kembali bregada Prajurit Keraton pada awal tahun 1970an setelah hampir 2 abad mengalami kemunduran.
Bersama moderator Prof. Dr. Drs RM Pramutomo, M.Hum hadir para prajurit keraton era 70-an, 90-an, dan 2000-an.
__ Ikuti berita seputar Kraton Jogja melalui media sosial berikut ini: FB page, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.idSIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat” - SESI 3Kraton Jogja2026-04-10 | SESI 3
Berikut kami sampaikan daftar pembicara untuk sesi SOSIAL BUDAYA dengan moderator Retno Kusumawiranti, S.Sos, M.P.A..
* Pemantik Diskusi: Prof. Em.Andre Avellino Hardjana, Ph.D. - Universitas Atma Jaya Yogyakarta - Paper 1: Aparatur Penerjemah di Kraton Yogyakarta - Bambang Muhamad Fasya Azhara, S.Hum - Paper 2: The Evolving Role of Abdi Dalem Kraton Yogyakarta: Navigating Modernity, Sustainability, and Digitalization - Nina Megawati, S.S., CSRS - Paper 3: Pengejawantahan Panjantra dalam Tata Paprentahan di Keraton Yogyakarta - Tim Renstra Keraton Yogyakarta --- Ikuti berita seputar Kraton Jogja melalui media sosial berikut ini: FB page, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.idSIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat” - SESI 4Kraton Jogja2026-04-10 | SESI 4
Berikut kami sampaikan daftar pembicara untuk sesi SENI & SASTRA dengan moderator Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.
* Pemantik Diskusi: Dr. Helene Njoto Feillard - Ecole Française d’Extrême-Orient (EFEO) - Paper 1: Adapting Tradition: Abdi Dalem Contribution to Dance Education at Kridhamardawa Amidst Pedagogical Shifts - Associate Professor Dr. Muhammad Fazli Taib bin Saearani - Paper 2: Peran dan Fungsi Abdi Dalem Musikan dalam Kraton Orcest Djogja - Dr. Sn., R.M. Surtihadi, S.Sn., M.Sn. - Paper 3: Kiprah Abdi Dalem Keparak Kraton Yogyakarta Dalam Naskah Kraton Huishouding KBG 950 - Erma Purwati, S.S. --- Ikuti berita seputar Kraton Jogja melalui media sosial berikut ini: FB page, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.idSIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat” - PEMBUKAANKraton Jogja2026-04-10 | PEMBUKAAN
Dengan mengambil momentum ulang tahun penobatan atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X berdasarkan Tahun Masehi, Keraton Yogyakarta kembali menggelar Simposium Internasional Budaya Jawa yang ke-7. Gelaran simposium diselenggarakan pada 12-13 April 2025 ini mengusung tema “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat”.
Acara dibuka pada tanggal 12 April 2025, oleh GKR Hayu & GKR Mangkubumi, setelah sebelumnya digelar Pertunjukan Busana Prajurit diiringi Yogyakarta Royal Orkestra di hadapan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10.SIMPOSIUM INTERNASIONAL BUDAYA JAWA 2025 “Aparatur Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat” - SESI 1Kraton Jogja2026-04-10 | SESI 1
Berikut kami sampaikan daftar pembicara untuk sesi SEJARAH dengan moderator Prof. Nur Hidayanto P.S.P., S.Pd., M.Pd., Ph.D .
- Pemantik Diskusi: Prof. Dr. Arndt Graf – Goethe University Frankfurt, Germany
- Paper 1: Peran dan Fungsi Prajurit Estri Langen Kusuma di Kasultanan Yogyakarta Masa Hamengku Buwana II - Dr. Hayu Adi Darmarastri, S.S., M.Hum
- Paper 2: Dari Reorganisasi Agraria Sampai Reformasi: Lembaga Pertanahan Kesultanan Yogyakarta - Tiwuk Kusuma Hastuti, S.S., M.Hum
- Paper 3: Sejarah Penegakan Hukum pada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat: Studi Historical Law Pengadilan Darah Dalem dan Pengadilan Surambi - Mastri Imammusadin, S.H __ Ikuti berita seputar Kraton Jogja melalui media sosial berikut ini: FB page, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event @kratonjogja.tourism Website: kratonjogja.idBedhaya Kuwung-Kuwung Uyon-uyon Hadiluhung Sawal Dal 1959 / 6 April 2026Kraton Jogja2026-04-06 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 setiap Malam Selasa Wage, sasi Sawal Dal 1959 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pada Senin Pon 6 April 2026, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Bedhaya Kuwung-Kuwung. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00.
Sinopsis Bedhaya Kuwung-Kuwung Bedhaya Kuwung-Kuwung merupakan salah satu tari bedhaya klasik di lingkungan Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII (1877–1921). Berdasarkan kandha yang menyertai tarian ini, Bedhaya Kuwung-Kuwung mengisahkan peristiwa penganugerahan ageman dalem berupa Bintang Besar Kumendur dari Gubernur Hindia Belanda kepada Sultan Yogyakarta, yang merefleksikan relasi politik dan diplomatik antara Keraton Yogyakarta dan pemerintah kolonial pada masa itu. Narasi tarian ini tercatat dalam naskah K.131-B/S 9 yang kini tersimpan di Perpustakaan Widya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam naskah sindhenan Bedhaya tersebut juga diuraikan secara naratif mengenai prosesi penganugerahan Bintang Besar kepada Sri Sultan Hamengku Buwana VII. Naskah ini menjadi sumber penting untuk memahami latar historis serta struktur dramatik yang melandasi penciptaan tarian. Bedhaya Kuwung-Kuwung ditarikan oleh sembilan penari perempuan sesuai pakem tari bedhaya. Pertunjukan diawali dengan kapang-kapang maju, yakni prosesi masuknya para penari ke ruang pertunjukan secara teratur dan anggun. Ragam gerak yang lembut dan terukur kemudian berpadu dengan pola lantai khas bedhaya, meliputi rakit lajur, rakit ajeng-ajengan, rakit iring-iringan, rakit tiga-tiga, dan rakit gelar, yang membentuk komposisi gerak yang harmonis dan sarat makna simbolik. Sebagai bagian dari khazanah seni tradisi Keraton Yogyakarta, pada tahun 2018 Bedhaya Kuwung-Kuwung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam Uyon-Uyon Hadiluhung 6 April 2026, Bedhaya Kuwung-Kuwung dipentaskan dalam versi singkat (jugag), dengan tetap mempertahankan esensi estetika, struktur gerak, serta nilai historis yang terkandung di dalamnya.
Lampahan ini menceritakan tentang rentetan peristiwa yang merupakan hukum sebab dan akibat. Dewi Indradi adalah sosok putri dari Kahyangan, yang sedang mencari jati diri dalam urusan cinta. Jiwa muda Dewi Indradi membawanya untuk berkelana, hingga harus turun ke dunia. Kisah pengembaraan di dunia membawanya untuk bertemu pahit getir dan suka duka dalam urusan cinta.
Kisah ini bermula dari Dewi Indradi yang mengkhianati cinta Prabu Gajendramuka, sehingga ia harus berpaling cinta kepada Raden Gutama. Pernikahannya dengan Raden Gutama, membawa keyakinan Dewi Indradi bahwa sang ksatria itu adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Impian itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan dalam kehidupan rumah tangga.
Bathara Surya yang menjadi orang ketiga, penyebab kehancuran rumah tangga Dewi Indradi dan Raden Gutama. Ibarat nasi telah menjadi bubur, Dewi Indradi lalu dihadapkan pada pilihan yang sangat pelik. Cinta yang sekokoh tugu itulah yang memaksa Dewi Indradi terus menjalani darma hidupnya, meskipun tugu cinta itu juga yang akan merobohkan semua cita-cita cintanya.
Pementasan wayang kulit semalam suntuk dalam Bedhol Songsong kali ini dapat disaksikan secara langsung dari Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, maupun live streaming melalui kanal YouTube Kraton Jogja pada:
Jumat, 20 Maret 2026 Pukul 20.00 WIB - selesai
Acara ini juga terbuka untuk UMUM (tidak perlu reservasi) dan tidak perlu menggunakan busana khusus (cukup berbusana bebas rapi sopan).
____ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja X: @kratonjogja Tiktok: @kratonjogja.id Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Website: kratonjogja.id
#KratonJogja #BedholSongsong #SawalDal1959 #WayangKulit #eventkratonjogja[ENGLISH TRANSLATION] Bedhol Songsong Sawal Dal 1959: Ringgit Wacucal Lampahan Tugu IndradiKraton Jogja2026-03-20 | Closing the series of Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959, Directorate General (Kawedanan) Kridhamardawa of Yogyakarta Royal Palace (Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat) presents Bedhol Songsong: Performance of Ringgit Wacucal (Wayang) Sedalu Natas with the story of Tugu Indradi, performed by ML. Cermo Radyoharsono. This play tells the story of a sequence of events driven by the law of cause and effect. Dewi Indradi is a princess from the Heavens (Kahyangan) who is searching for her true identity in the matters of love. Her youthful spirit leads her to wander, eventually descending to the mortal world. Her journey on earth brings her to encounter the bitterness and sweetness, the joys and sorrows of love. The story begins with Dewi Indradi betraying the love of Prabu Gajendramuka, as she turns her heart toward Raden Gutama. Her marriage to Raden Gutama brings her the conviction that the knight is her final destination in love. However, that dream turns out to be the polar opposite of the reality of her domestic life. Bathara Surya becomes the third person, the cause of the destruction of Dewi Indradi and Raden Gutama's household. As the saying goes, "the rice has turned to porridge," Dewi Indradi is then faced with a very complicated choice. It is a love as firm as a monument (tugu) that forces her to continue living her life's duty (dharma), even though that very monument of love is what will tear down all her romantic aspirations. The all-night wayang performance in Bedhol Songsong this time can be watched live from the Kagungan Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, near the Alun-Alun Kidul Yogyakarta, or through live streaming via the Kraton Jogja YouTube channel on:
Friday, March 20, 2026 Time: 08.00 p.m. - end (GMT +7)
You can also enjoy the simultaneous translation to English by Dr Kathryn "Kitsie" Emerson @kitsieemerson in this performance. This event is also open to the PUBLIC (no reservations required).
____ Get the latest update of information about the Yogyakarta Royal Palace through: Facebook, Youtube: Kraton Jogja X: @kratonjogja Tiktok: @kratonjogja.id Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Website: kratonjogja.id
#KratonJogja #BedholSongsong #SawalDal1959 #WayangKulit #eventkratonjogjaPembukaan Pameran “Smarabawana”Kraton Jogja2026-03-08 | Pameran Smarabawana Menerjemahkan hubungan tata ruang dan wilayah di Kasultanan Yogyakarta tidak terbatas pada budaya material yang melekat pada kawasan, bangunan, maupun benda cagar budaya. Akan tetapi relasi tersebut menjelma dalam manifestasi sakral non-material, dengan muatan filosofi mendalam. Pada pameran awal tahun 2026, Keraton Yogyakarta mengangkat tema arsitektur, tata ruang, dan wilayah Kasultanan Yogyakarta dengan berorientasi pada pembahasan pada aspek arsitektur material hingga bentang alam Yogyakarta yang dibangun sejak Perjanjian Giyanti, 1755 oleh Pangeran Mangkubumi. Aspek bentang alam kerap dihubungkan dengan kawasan yang kompleks dengan sosial-politik, sedangkan dalam tataran filosofi, bentang alam Yogyakarta menjadi ruang penghayatan atas simbol-simbol perjalanan hidup dan dimaknai sebagai konsep sangkan paraning dumadi. Pada filosofi tersebut, manusia Jawa memegang peran penting dalam mewujudkan relasi kuasa atas dirinya dan hubungannya dengan alam atau hamemayu hayuning bawana. Setiap filosofi tersebut kemudian diturunkan baik dalam pembangunan fisik maupun pembangunan mental manusia Jawa, seperti paham tentang sedulur papat lima pancer, nawa dewata yang melindungi delapan arah mata angin dengan Bethara Guru (Shiva) berada di tengah sebagai fungsi penyeimbang.
Sinopsis Pertunjukan Buron Wana Dalam kaitannya dengan tata ruang Kasultanan Yogyakarta, buron wana menjadi hewan-hewan yang hadir di kebun hewan milik raja, serta hutan-hutan yang terhampar di sekeliling kerajaan. Pada masa pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Panggung Krapyak yang dianggap sebagai tempat perburuan rusa sekaligus tempat para raja beristirahat ketika berburu. Beberapa sumber menyebutkan Panggung Krapyak dengan istilah monumen pemanahan. Dalam Babad Ngayogyakarta, disebutkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I ditemani oleh kesatuan prajurit Jager saat berburu di kawasan Krapyak. Pada penampilan peragaan busana Buron Wana dalam pembukaan pameran kali ini, Kawedhanan Kridhamardawa menghadirkan berbagai busana buron dan iringan lagu oleh Yogyakarta Royal Choir, antara lain: 1. Gajah/Liman diiringi lagu Bapak Pocung aransemen Steven Immanuel Angelo 2. Landak diiringi Lelalgon Landhak Laras Pelog Pathet Nem ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Steven Petra Anugerah 3. Bulus diiringi Lelagon Bulus Laras Slendro Pathet Sanga ciptaan ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Rafeel juniar Krismanda 4. Naga diiringi Lelagon Naga Laras Pelog Pathet Barang ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Athitya Diah Natalia Monica 5. Yuyu diiringi oleh lagu Yuyu Kangkang ciptaan Favourite’s Group, diaransemen oleh Steven Petra Anugerah 6. Kluyu diiringi Lelagon Kluyu Laras Pelog Pathet Sanga ciptaan MRy Susilomadyo, diaransemen oleh Lukas Gunawan Arga Rakasiwi 7. Kidang diiringi lagu Kidang Talun ciptaan RC Hardjasoebrata, diaransemen oleh Rafeel Juniar Krismanda 8. Turangga/Kuda diiringi lagu Jaranan aransemen Steven Petra Anugerah 9. Cohung diiringi lagu Cohung aransemen Steven Immanuel Angelo 10. Macan diiringi lagu Macan Ucul ciptaan Ki Narto Sabdo, diaransemen oleh Christo Carlo Manuel Gultom 11. Celeng diiringi lagu Dhempo Talu Tameng aransemen Fransisca Augmensia Puteri Gratia 12. Peksi/Burung diiringi Lelagon Sebet ciptaan Ki Tjokrowarsito, diaransemen oleh Rafeel Juniar KrismandaBeksan Sena Rananggana Uyon-Uyon Hadiluhung Ruwah Dal 1959 / 26 Januari 2026Kraton Jogja2026-01-27 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Buwono X setiap malam Selasa Wage, sasi Ruwah Dal 1959 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Pada Senin Pon 26 Januari 2026 esok, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Beksan Sena Rananggana. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00.
Komposisi Gendhing 1. Gendhing Pambuka : Ladrang Raja Manggala Laras Pelog Pathet Nem 2. Gendhing Soran : Gendhing Dandhun Kendhangan Candra Jangkep Sadhawahipun Laras Slendro Pathet Nem 3. Gendhing Lirihan I : Gendhing Sri Rejeki Kendhangan Sarayuda Dhawah Ladrang Sri Rejeki Laras Pelog Pathet Nem 4. Gendhing Lampah Beksan : Beksan Sena Rananggana Laras Slendro Pathet Manyura 5. Gendhing Lirihan II : Gendhing Irim - Irim Kendhangan Sarayuda Jangkep Sadhawahipun Minggah Ketawang Aji Saka Laras Pelog Pathet Barang 6. Gendhing Lirihan III : Bawa Swara Sekar Macapat Dhandhanggula Majatsih Katampen Ladrang Sekar Sepasang, Kalajengaken Plajaran Suka Rena, Kaseling Gendhing Dolanan : - 1) Sar-Sur Kulonan, - 2) Lindri - 3) Kidang Talun - 4) Kembang Jagung - 5) Aja Ngewa-ewakake - 6) A-B-C Laras Slendro Pathet Manyura 7. Gendhing Panutup : Ladrang Sri Kondur Laras Slendro Pathet Manyura
Sinopsis Beksan Sena Rananggana
Beksan Sena Rananggana mengisahkan pertarungan antara Bratasena (Werkudara) dengan Dhandhunwacana saat membuka hutan angker bernama Wanamarta. Kisah ini merupakan salah satu rangkaian peristiwa penting yang melatarbelakangi pendirian Kerajaan Amarta, kerajaan yang dipimpin oleh para Pandhawa. Beksan Sena Rananggana ditarikan oleh empat penari yang berperan sebagai tokoh Bratasena dan Dhandhunwacana. Tarian ini mengambil fokus pertempuran antara Bratasena dan Dhandhunwacana. Diceritakan, keduanya memiliki kesaktian disertai dengan tubuh yang besar, gagah, dan perkasa. Dalam pertarungan sengit mereka, Bratasena pada akhirnya dapat mengalahkan Arya Dhandhunwacana. Raga dan jiwanya menyatu dalam tubuh Bratasena. Bersama dengan saudara-saudaranya, Arya Dhandhunwacana memberikan segala yang dimilikinya untuk kebaikan dan keselamatan kerajaan Mertani. Sajian tari Beksan Sena Rananggana ini berkonsep beksan sekawanan. Tarian ini dilakukan oleh empat orang penari, dua orang berperan sebagai tokoh Bratasena/Wijasena dan Dhandhunwacana dan dua orang lainnya berperan sebagai tokoh bayangan dari kedua tokoh tersebut. Ragam gerak dan pola lantai yang digunakan mengacu pada kaidah tari klasik gaya Yogyakarta. Beksan Sena Rananggana memiliki urutan majeng gendhing (awal tarian), enjeran (persiapan perang), perang, dan mundhur gendhing (akhir tarian). Pada bagian perang, kedua tokoh menggunakan senjata gada dan bindhi.
Penampilan Beksan Sena Rananggana kali ini didukung oleh:
Kendang: Mg Vicky Gino Kurniawan; RW Ngeksibrongto Rebab: MJ Jayenggati; MP Cermowarsito Slenthem: ML Purwotejo; MB Teguhjiwo Gender Barung: MJ Jatikondho; MB Gurisomengkreng Gender Penerus: MRy Pamularsih; MW Menyanseto Gambang: MJ Rangu-Rangu; MP Megarsari Siter/Celempung: MB Jatikumolo; MB Jatipurno Suling: ML Honggotomo Bonang Barung: MW Rogomulyo; MB Srikawuryan Bonang Panerus: MW Jokomulyo; MJ Kondhomanyura Bonang Panembung: MJ Gendrehkemasan; MJ Birowo Demung: MB Pupokawedar; MJ Subakastowo; MB Brongtomadyo; MJ Sembunggilang Saron: MB Hastokuswolo; MB Sekartejo; MB Kumoromoyo; MJ Songgolewang; RW Widyosindutirto; RJ Soroyudo; MJ Turirowo; MJ Morosebo Peking/Cluring: RB Tejobrongto; MP Srikaloka Kempyang: MP Sarimulyo; MJ Babarlayar Kethuk/Kenong: MP Ronggojanur Kempul: MJ Panyutro Suwukan: MB Mardutomo Gong: MRy Srimalelo; MB Jatikumoro Bedhug: MRy Susilomadyo Penunthung: MB Madukumolo; MJ Taliwongso Pasindhen: Nyi MP Sariningsih; Nyi ML Langensari; Nyi ML Larasmoyo; Nyi ML Kusumastuti; Nyi ML Larasati; Nyi MB Ciptorini; Nyi MB Pujosari; Nyi MB Gondosuli; Nyi MB Hambarsari; Nyi MJ Rumingsari; Nyi MJ Cempokorini; Nyi MJ Udanasih Lebdaswara: KMT Dwijosupadmo; MW Widyowasiranto; MB Sapartitolo; MB Lokasari; MB Brongtomardiko; MB Condropurnomo; MB Kuswaraga; RJ Garjitowatang; RJ Citromengeng; RJ Giwangkumolo Pranatacara: RB Cermodiworo Host: MJ Bangunsore Audio Control: RJ BrongtowiwohoPenutupan Pameran “Pangastho Aji, Laku Sultan KedelapanKraton Jogja2026-01-25 | Pada akhir tahun 2025 KHP Nityabudaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mempersembahkan Pameran Temporer dengan judul Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan. Dalam perjalanan hidupnya, GPH Puruboyo tak pernah membayangkan akan menjadi pewaris takhta. Sebagai putra keempat dari seorang permaisuri, ia lebih banyak berkutat pada pengelolaan keuangan kerajaan serta menyalurkan minatnya di bidang seni. Namun, nasib berkata lain. Keputusan sang ayah untuk turun takhta membuka jalan baginya menuju singgasana Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII naik takhta di masa kerajaan mengalami kedamaian dan awal perkembangan industri. Di bawah kepemimpinannya, keraton mengalami kemajuan lewat berbagai inovasi—mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, perencanaan kota, layanan kesehatan, hingga pelestarian dan perkembangan seni. Semua pencapaian ini terwujud dalam sebuah persembahan yaitu Pangastho Aji. Pameran ini telah dilaksanakan sejak Sabtu, 27 September 2025 hingga Sabtu, 24 Januari 2026. Pameran ini telah dikunjungi lebih dari 260.000 pengunjung dari seluruh dunia. Dalam rangka penutupan pameran Pangastho Aji pada hari Sabtu, 24 Januari 2026 KHP Nitya Budaya mempersembahkan Bedhaya Bontit dan Beksan Gatotkaca Setija.
Bedhaya Bontit Bedhaya Bontit merupakan Yasan Dalem (karya) Sultan Hamengkubuwono VIII, mengambil cerita epos Mahabharata dan menggambarkan peperangan antara Raden Permadi dengan Raden Suryatmaja di Pura Mandaraka, yang berusaha untuk mendapatkan Dewi Surtikanthi. Dalam peperangannya, kedua prajurit tersebut memiliki kekuatan yang sama, sampai keduanya kehabisan akal dan tidak ada jalan keluarnya. Tidak ada yang menang dan kalah, sehingga keduanya tampak bersatu menjadi loro-loroning atunggal. Bedhaya Bontit kali ini, ditarikan oleh sembilan paraga dengan pola lantai yang cukup unik. Ketika para penari membuat pola lantai tiga-tiga, mereka bergeser ke kanan secara bersamaan dengan gerak kengser. Kemudian kembali lagi ke posisi awal secara bersamaan juga. Hal ini sangat jarang ditemui dalam bedhaya lainnya dan hanya ada dalam Bedhaya Sinom yang menggunakan pola yang sama. Dalam pentas kali ini, bagian peperangan ini pula ditemukan hal yang cukup menarik, yakni gendhing yang digunakan adalah Gendhing Ketawang. Jarang pula ditemukan gendhing Ketawang digunakan dalam adegan peperangan untuk sebuah tarian bedhaya.
Gatutkaca Setija Tarian Gatutkaca Setija ini menggambarkan peperangan Prabu setija raja di Tranutresna melawan raden Gatutkaca, satriya pringgondani. Prabu Setija ingin menguasai Kikis Tunggarana yang telah menjadi wilayah pringgondani. Gatutkaca tidak Terima wilayahnya dikuasai Setija maka terjadilah peperangan, Akhirnya Prabu Setija meninggalkan peperangan.Peringatan Isra Mikraj 27 Rejeb Dal 1959Kraton Jogja2026-01-16 | Pada 27 Rejeb Dal 1959 (15 Januari 2026), Keraton Yogyakarta memperingati Isra Mikraj 1447 Hijriah dengan menggelar Hajad Dalem Yasa Peksi Burak. Prosesi ini diawali dengan membuat rangkaian bunga dan buah menjadi burung buraq, sebagai simbol kendaraan Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isra Mikraj. Pelaksanaannya dilakukan Putri Dalem dan Sentana Dalem Putri di Bangsal Sekar Kedhaton, Kompleks Keputren, Keraton Yogyakarta. Simbol-simbol ini sangat penting untuk mendukung syiar Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat pada zaman dahulu. Rangkaian Peksi Burak kemudian diantar ke Kagungan Dalem Masjid Gedhe.
Selepas Isya, Abdi Dalem Pengulon kemudian melaksanakan pengajian pembacaan riwayat Kanjeng Nabi Muhammad SAW selama melakukan perjalanan Isra Mikraj.
Sahabat Kraton Jogja dapat menghadiri langsung atau menyimak melalui kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.30 WIB - selesai. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja: Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.idBedhaya Babar Layar Uyon Uyon Hadiluhung Rejeb Dal 1959 / 22 Desember 2025Kraton Jogja2025-12-23 | Memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Buwono X setiap malam Selasa Wage, sasi Rejeb Dal 1959 ini Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Uyon-Uyon Hadiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti. Pada Senin Pon 22 Desember 2025 esok, selain menyajikan beragam komposisi gendhing akan disajikan pula Bedhaya Babar Layar. Acara dapat dihadiri masyarakat secara langsung dengan reservasi dan berbusana sesuai pranatan di Keraton Yogyakarta. serta siaran langsung (live streaming) melalui kanal Youtube Kraton Jogja mulai pukul 19.00.
Sinopsis Bedhaya Babar Layar Bedhaya Babar Layar merupakan salah satu bedhaya arkaik yang konon diciptakan pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Setelah pecahnya Mataram Islam, disebutkan bahwa Bedhaya Babar Layar kemudian dilestarikan di Keraton Yogyakarta, bersama Bedhaya Semang dan Bedhaya Rambu. Bedhaya ini kemudian disempurnakan kembali, dan menjadi Yasan Dalem Hamengku Buwana I yang diciptakan khusus bagi putra mahkota, Raden Mas Sundara. Kemudian pada masa Hamengku Buwana VI, bedhaya Babar Layar kembali digubah dan dianugerahkan kepada putranya di Kadipaten, GRM Murteja yang kelak menjadi Sultan Hamengku Buwana VII.
Cerita yang diangkat berasal dari Kagungan Dalem Serat Klana Giwangkara, yang dimungkingkan masih merupakan bagian dari Serat Suryaraja. Bercerita tentang seorang raja putri dari negeri Ngambarkulama yang ambabar layar, berlayar bersama seluruh pasukannya untuk menaklukkan negeri Kandhabuwana. Setibanya di sana, raja putri berhadapan dengan putra mahkota (raja putra) Kandhabuwana. Pertarungan hebat terjadi, namun ternyata api kemarahan berubah menjadi api asmara. Pada akhirnya hati Raja Putri Ngambarkumala luluh dan bersatu dengan Raja Putra Kandhabuwana. Lampah beksan Bedhaya Babar Layar yang ditampilkan saat ini merupakan versi jugag dari hasil rekonstruksi yang pernah dilakukan oleh Nyi KRT Pujaningsih, berdasarkan lampah beksan yang terdapat pada manuskrip B/S 7.
Pranatacara: RB. CermowaconoTamanan: Cara Bermain DakonKraton Jogja2025-11-25 | Rubrik Tamanan seri lima puluh tiga hadir kembali dalam bentuk media video edukasi. Permainan dakon (atau congklak) adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya, tidak semata-mata untuk hiburan namun erat kaitannya dengan unsur stimulasi. Permainan sederhana yang dimainkan di atas papan kayu berlubang.
Dari perspektif psikologi perkembangan anak, dakon adalah alat pembelajaran yang luar biasa. Saat seorang anak bermain dakon, mereka secara aktif melatih sejumlah keterampilan kognitif penting seperti perencanaan dan strategi, keterampilan matematis dan kesabaran dan menunggu giliran.
Dengan demikian, dakon bukan hanya permainan kuno, melainkan sebuah instrumen budaya yang kuat, yang secara halus membentuk pikiran strategis dan kepribadian sosial anak, sekaligus menjaga warisan nenek moyang tetap hidup.
Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja X, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.idPeringatan 279 Tahun Hadeging Nagari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat 2025/Dul 1959Kraton Jogja2025-11-21 | ...Beksan Jungkung Mardeya Uyon Uyon Hadiluhung Jumadilawal Dal 1959 / 17 November 2025Kraton Jogja2025-11-18 | Uyon-Uyon Hadiluhung dalam rangka memperingati hari kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 setiap Senen Pon (malam Selasa Wage) digelar kembali pada 26 Jumadilawal Dal 1959 di Kagungan Dalem Bangsal Kamandhungan Kidul. Selain menyajikan komposisi gendhing, Uyon-Uyon Hadiluhung pada 17 November 2025 ini menampilkan pula Beksan Jungkung Mardeya. Acara terbuka untuk umum sehingga dapat disaksikan secara luring oleh masyarakat secara gratis, tanpa perlu reservasi. Namun penonton yang hadir langsung wajib menggunakan busana sesuai pranatan (ketentuan) yang berlaku di lingkungan keraton yakni pranakan jangkep untuk putra dan kebaya tangkepan jangkep untuk putri. Pergelaran ini dapat pula disaksikan secara daring melalui siaran langsung (live streaming) di kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.00 WIB.
Sinopsis Beksan Jungkung Mardeya Beksan Jungkung Mardeya merupakan beksan pethilan yang bersumber dari naskah berkode T.36 berjudul Pocapan Beksan Pethilan Perangipun Janaka-Jungkungmardeya (kini tersimpan di Perpustakaan Widya Budaya). Naskah tersebut memuat teks percakapan yang digunakan pada pementasan wayang wong, khususnya pada adegan pertempuran antara Janaka dan Prabu Jungkungmardeya. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10, Beksan Jungkung Mardeya kembali diangkat dan dipentaskan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung pada 17 November 2025.
Tarian ini bercerita tentang perang antara Jungkungmardeya, raja dari Kerajaan Parangtejo melawan Janaka. Diceritakan bahwa Prabu Jungkungmardeya hendak melamar dan membawa Dewi Srikandi, kabar ini akhirnya terdengar hingga ke telinga Janaka. Kondisi ini membuat pertemuan keduanya semakin memanas hingga akhirnya perang pun tak terhindarkan. Keduanya bersiap dengan tameng dan dhuwung (keris kecil) yang menjadi senjata utama. Gerak saling serang dan saling tangkis pun terjadi dengan cepat dan gagah. Setelah melalui pertempuran sengit, Janaka akhirnya berhasil mengalahkan Prabu Jungkungmardeya.
Beksan Jungkung Mardeya ditarikan oleh empat penari putra, 2 penari memerankan tokoh Prabu Jungkungmardeya dan 2 penari lainnya memerankan tokoh Janaka. Tokoh Prabu Jungkungmardeya dan Janaka sama-sama berkarakter alus, namun memiliki perbedaan dalam pembawan watak. Prabu Jungkungmardeya digambarkan memiliki sifat alus, lanyah, dan mbranyak, yang mencerminkan pribadi halus namun angkuh dan sombong. Sementara itu, Janaka berwatak alus dan luruh, menggambarkan sosok yang tenang, rendah hati dan penuh pengendalian diri. Perbedaan karakter inilah yang menjadi kekuatan utama dalam penampilan tarian, menghadirkan perbedaan yang menarik antara dua ksatria dengan sifat yang bertolak belakang.
Pertunjukan Beksan Jungkung Mardeya kali ini didukung oleh: Paraga (Siswa Pamulangan Hamong Beksa) Patuh: - R Nurwaskita Cahyo Darmawan - Bayu Murti Manunggal - Bagas Dwitiya Yogiswara - Dwiky Awang Kusuma Jati Bela: - Tirta Wahyu Pratama - Moreno Arya Kamandanu A - Dian Afrizal - Restu Hendry Pratama Pamucal Beksa: R.Ry. Rogomurti Panata Gendhing Beksan: MRy. Susilomadyo Panata Gendhing Uyon-uyon: MB. Kumoromoyo Kandha: Ahmad Hafidz Rasyad Keprak: R Riyo Rogomurti Panata Busana: MB Kayun Sumekto Pimpinan Produksi: MB. Kagomatoyo
Wiyaga Kendhang: RW. Ngeksibrongto Penunthung: MJ. Taliwongso Gender Barung: MB. Gurisomengreng Gender Penerus: MW. Menyanseto Rebab: MP. Cermo Warsito Gambang: MP. Megarsari Celempung/Siter: MW. Margosuprapto Suling: ML. Honggotomo Slenthem: MB. Teguh Jiwo Bonang Barung: MB. Sri Kawuryan Bonang Penerus: MJ. Kondhomanyuro Bonang Panembung: MB. Ronggojati; MJ. Subokastowo Demung: MJ. Birowo; MJ. Turirowo; MB. Babar Layar Saron: MJ. Morosebo; MJ. Sembunggilang; MJ. Songgolewang; MB. Dandun Bentar; RB. Tejobrongto; MP. Srikaloka Peking: MW. Jiwanggono Gambang Gangsa: MJ. Panyutro Slentho: MB. Ardiguntur Kempyang: MP. Ronggojanur Kethuk/Kenong: ML. Jati Kumoro Kempul: MB. Ranumanggolo Suwukan: MB. Sudirokawekas Gong: MW. Srimalelo Bedhug: M Riyo Susilomadya Lebdaswara: KMT. Dwija Supadma; MW. Widyo Wasiranto; MB. Sapartitala; MB. Lokasari; MB. Brongtomardika; MB. Condropurnomo; MB. Kusworogo; RJ. Garjitowatang; RJ. Giwangkumolo Sindhen: Nyi ML. Kusumastuti; Nyi ML. Larasati; Nyi ML. Langensari; Nyi MB. Gondosuli; Nyi MP. Sariningsih; Nyi MB. Rumingsari; Nyi MB. Ciptorini; Nyi MB. Hambarsari; Nyi MB. Pujosari; Nyi MJ. Cempokorini; Nyi MJ. Udan Asih Pranatacara: RB. Cermo WaconoIL TROVATORE - D’amor sull’ali roseeKraton Jogja2025-10-26 | IL TROVATORE - D’amor sull’ali rosee merupakan aria kedelapanbelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo sopran, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Leonora dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Il trovatore (1853) merupakan bagian dari “trilogi populer” Verdi bersama Rigoletto dan La Traviata. Aria “D’amor sull’ali rosee” dinyanyikan oleh karakter Leonora pada Babak IV, menjadi salah satu momen paling lirikal dan menyayat hati dalam opera ini. Adegan berlangsung di luar penjara tempat Manrico, kekasih Leonora, ditahan menunggu eksekusi. Leonora memohon kepada angin malam agar menyampaikan pesan cintanya kepada Manrico. Dengan kesedihan mendalam, ia menyanyikan cinta yang tak tergoyahkan meskipun maut sudah dekat. Aria soprano ini ditulis dengan gaya lirikal, penuh ekspresi halus dan nuansa puitis. Melodi panjang, lembut, dan penuh kelembutan mencerminkan kasih sayang Leonora. Dinamika orkestra ditahan, memberi ruang pada vokal yang ekspresif sekaligus intim. Aria ini menuntut teknik legato dan kontrol napas yang luar biasa dari penyanyi. “D’amor sull’ali rosee” sering dianggap sebagai salah satu aria soprano terindah dalam karya Verdi, karena mampu menggabungkan lirisisme murni dengan kedalaman emosional. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#ILTROVATORE #Damorsullalirosee #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #EvaPolimeni #KratonJogjaRIGOLETTO - La donna è mobileKraton Jogja2025-10-26 | RIGOLETTO - La donna è mobile merupakan aria kedelapan yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo tenor Daniele Falcone yang memerankan tokoh Duke of Mantua dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Rigoletto (1851, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu opera paling populer Verdi. Aria tenor “La donna è mobile” dinyanyikan oleh Il Duca di Mantova pada Babak III. Lagu ini menjadi salah satu aria paling terkenal dalam sejarah opera, dengan melodi yang segera dikenal bahkan oleh penonton awam. Adegan berlangsung di tepi sungai, dekat penginapan Sparafucile, pada malam hari. Di tengah suasana yang penuh intrik dan kegelapan, Duke tanpa rasa khawatir menyanyikan aria “La donna è mobile,” sebuah lagu ringan dan riang yang justru kontras dengan bahaya yang mengintainya. Dalam nyanyiannya, ia dengan sembrono menyatakan bahwa perempuan itu “selalu berubah,” menampilkan sifatnya yang menawan sekaligus dangkal. Ditulis dalam B mayor, tempo allegretto, dengan melodi ringan, ritmis, dan mudah diingat. Struktur sederhana berbentuk strofa dengan pola melodi berulang, sehingga cepat melekat di telinga. Orkestra mengiringi dengan ritme tarian riang, memberi kesan santai dan penuh percaya diri, bertolak belakang dengan latar cerita yang muram. Vokal menuntut proyeksi cerah, artikulasi jelas, dan pesona panggung yang karismatik. “La donna è mobile” telah menjadi salah satu aria paling populer sepanjang masa, sering diperdengarkan di luar panggung opera. Pada pemutaran perdana, Verdi sangat merahasiakan aria ini agar tidak bocor, karena ia tahu melodinya akan segera populer. Hingga kini, aria ini tetap menjadi ikon repertoar tenor dan simbol daya tarik melodi Verdi.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#RIGOLETTO #Ladonnaèmobile #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #KratonJogjaMACBETH - PreludioKraton Jogja2025-10-26 | MACBETH - Preludio merupakan aria kelima yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dipandu conductor, Aurelio Canonici. Macbeth adalah opera empat babak karya Giuseppe Verdi (libretto: Francesco Maria Piave & Andrea Maffei), berdasarkan tragedi Macbeth karya William Shakespeare. Preludio berfungsi sebagai pembuka, menggambarkan atmosfer tragedi yang akan mendominasi opera. Tidak seperti overture besar yang penuh potongan tema, preludio ini relatif singkat (sekitar 3 menit), padat, dan langsung mengarahkan suasana. Musiknya mengisyaratkan tema takdir, ambisi, dan kegelapan yang menimpa Macbeth dan Lady Macbeth. Sebagaimana dicatat oleh para pengamat, preludio ini menghadirkan lanskap Skotlandia yang muram, dengan firasat gelap menyelimuti jalan cerita. Preludio dibuka dengan warna brass dan gesekan gelap yang menciptakan nuansa suram dan penuh ketegangan. Bagian misterius, yang terkait dengan dunia penyihir (simbol takdir), berpadu dengan bagian dramatis yang mencerminkan ambisi Macbeth. Orkestra bergerak dari nuansa piano misterius menuju ledakan klimaks singkat, lalu mereda kembali, seolah menggambarkan lingkaran takdir dan kejatuhan tragis. Struktur kompak, mirip symphonic sketch, membuatnya sangat efektif mempersiapkan penonton pada drama gelap yang mengikuti. Preludio Macbeth mencerminkan gaya awal Verdi yang mulai meninggalkan formula overture pot-pourri tradisional, menuju pembukaan yang lebih dramatik dan terkait erat dengan isi drama. Karya ini memperlihatkan penekanan Verdi pada atmosfer psikologis ketimbang sekadar parade tema populer. Hingga kini, preludio ini sering dimainkan secara mandiri dalam konser orkestra sebagai contoh kepadatan ekspresi Verdi. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#MACBETH #Preludio #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogjaLA TRAVIATA - De’ miei bollenti spiritiKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - De’ miei bollenti spiriti merupakan aria keduabelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo tenor, Daniele Falcone yang memerankan tokoh Alfredo Germont dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. La Traviata (1853, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu opera Verdi paling terkenal. Aria tenor “De’ miei bollenti spiriti” dinyanyikan oleh Alfredo Germont pada Babak II, Adegan I. Adegan berlangsung di villa pedesaan dekat Paris, tempat Alfredo dan Violetta hidup bersama setelah Violetta meninggalkan kehidupannya yang gemerlap demi cinta sejati. Alfredo, dengan penuh kebahagiaan, menyanyikan aria ini sebagai ekspresi cintanya kepada Violetta dan rasa syukurnya atas kehidupan sederhana namun penuh kasih. Suasana yang intim dan damai menjadi kontras dengan tragedi yang akan segera menimpa pasangan ini. Ditulis untuk tenor dengan warna vokal cerah dan ekspresif, mencerminkan semangat muda Alfredo. Melodi penuh gairah dan energi (bollenti spiriti berarti “semangat yang membara”), mencerminkan cinta dan optimismenya. Orkestra mendukung dengan ritme ringan dan harmonisasi hangat, mempertegas atmosfer bahagia. “De’ miei bollenti spiriti” adalah salah satu aria tenor liris paling dikenal dari La Traviata, memperlihatkan sisi muda, idealis, dan penuh cinta Alfredo. Secara dramaturgi, aria ini menegaskan kebahagiaan sesaat sebelum konflik besar datang, menjadikannya titik keseimbangan antara romansa dan tragedi. Dalam penampilan aria keduabelas ini, 2 karya maestro lukis S.Sudjojono milik S.Sudjojono Center tampil sebagai visualisasi. Karya pertama berjudul ‘The Ruins and the Piano’ dengan medium minyak di atas kanvas, 200 x 125 cm, yang dibuat pada tahun 1956 ini merupakan lukisan yang menjadi kehancuran dan harapan: puing-puing dan piano sunyi menjadi alegori bagi harmoni yang tetap hidup di tengah reruntuhan. Sedangkan karya kedua berjudul ‘Potret Rose Pandanwangi (Rose Istriku)’ dengan medium minyak di atas hardboard, 120 × 85 cm, yang dibuat sekitar tahun 1959. Karya kedua yang tampil di aria ini merupakan sebuah penghormatan kepada sang istri maestro S.Sudjojono, diva seriosa Rose Pandanwangi, yang juga menjadi penghubung dunia seni rupa dan musik Indonesia. Dua karya ini dirasa begitu pas menjadi visualisasi aria ‘De’ miei bollenti spiriti’ yang melantunkan semangat cinta yang tak padam.
Visual Projection pada Konser ini merupakan hasil kolaborasi antara Yogyakarta Royal Orchestra dengan S. Sudjojono Center dengan ditayangkan oleh Faya.fla Yogyakarta — sebuah pertemuan antara musik, seni visual, dan sejarah yang hidup di atas panggung. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Demieibollentispiriti #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #KratonJogjaLA FORZA DEL DESTINO - OvertureKraton Jogja2025-10-26 | LA FORZA DEL DESTINO - Overture merupakan aria keduapuluh satu yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. La forza del destino pertama kali dipentaskan di St. Petersburg tahun 1862, lalu direvisi Verdi untuk pementasan di Milan tahun 1869. Overture versi revisi (1869) menjadi salah satu overture paling terkenal Verdi, sering dipentaskan sebagai karya konser terpisah. Overture ini merangkum konflik utama opera: takdir yang tragis, cinta yang penuh penderitaan, serta nuansa religius yang mengitari tokoh-tokohnya. Tema-tema utama dari opera—terutama motif “takdir” yang dimainkan oleh brass—sudah diperkenalkan di sini. Dibuka dengan tiga nada dramatis dari brass yang melambangkan kekuatan takdir, menggetarkan dan segera menciptakan suasana tegang. Bagian selanjutnya memperkenalkan tema-tema liris penuh harapan, yang kemudian terjalin dengan motif tragis. Kontras antara melodi indah penuh kelembutan dengan ledakan orkestra yang gelap mencerminkan benturan cinta dan takdir. Struktur overture ini padat, teatrikal, dan menegangkan, sehingga kerap disebut sebagai “miniatur opera” itu sendiri. Overture La forza del destino adalah salah satu karya konser orkestra paling sering dimainkan dari Verdi, sejajar dengan overture Nabucco dan La traviata. Kekuatan musikalnya bukan hanya sebagai pembuka opera, tetapi juga sebagai karya mandiri yang menyatukan dramatisme, lirisisme, dan simbolisme Verdi.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LAFORZADELDESTIONO #Overture #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogjaIL TROVATORE - Vedi le fosche notturne spoglie...Chi del gitano i giorni abbellaKraton Jogja2025-10-26 | IL TROVATORE - Vedi le fosche notturne spoglie...Chi del gitano i giorni abbella merupakan aria ketujuhbelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Il trovatore (1853, libretto: Salvadore Cammarano) adalah salah satu dari trilogi karya Verdi yang paling populer. “Vedi! le fosche notturne spoglie” dikenal luas sebagai Anvil Chorus, karena ditandai dentuman palu para gipsi yang memukul landasan besi (incudini) di panggung. Bagian ini muncul pada Babak II, menjadi salah satu paduan suara paling ikonik Verdi. Adegan berlangsung di perkemahan kaum gipsi menjelang pagi. Paduan suara menyanyikan pujian akan kehidupan bebas kaum gipsi: kerja keras di siang hari dan keceriaan di malam hari. Mereka merayakan kebebasan hidup mereka, menyalakan api unggun, menyiapkan minuman, dan menabuh landasan dengan palu besi. Musik bercorak ritmis, penuh energi, dengan aksen perkusi yang menirukan dentuman besi, salah satu ciri khas paling teatrikal Verdi. Melodi mudah diingat, dinyanyikan unisono oleh paduan suara, menciptakan kekuatan kolektif. Bagian kedua (“Chi del gitano i giorni abbella”) lebih liris, menampilkan sisi romantis dan puitis kehidupan gipsi. Anvil Chorus adalah salah satu paduan suara paling populer dalam sejarah opera, sering diperdengarkan secara terpisah di konser-konser simfoni. Dramaturgi, bagian ini menghadirkan jeda penuh energi dan warna folkloris di tengah ketegangan tragedi. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#ILTROVATORE #Vedilefoschenotturnespoglie #Chidelgitanoigiorniabbella #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaLA TRAVIATA - Ed or si scriva a lui...Amami AlfredoKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Ed or si scriva a lui...Amami Alfredo merupakan aria keempatbelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan duet dari tenore, Daniele Falcone yang memerankan tokoh Alfredo Germont dengan soprano, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Violetta Valéry, dan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Adegan “Amami Alfredo” muncul pada Babak II, Adegan I opera La Traviata (1853), dan menjadi salah satu momen puncak emosional bagi tokoh Violetta Valéry. Adegan berlangsung di villa pedesaan, tempat Violetta dan Alfredo hidup bahagia bersama, namun kebahagiaan itu terguncang setelah Giorgio Germont, ayah Alfredo, memohon agar Violetta meninggalkan putranya demi kehormatan keluarga. Setelah pergulatan batin, Violetta memutuskan berkorban dan menulis surat perpisahan. Saat Alfredo masuk, ia menutupi kesedihannya dan hanya mampu berseru lirih namun mendalam: “Amami, Alfredo” (“Cintailah aku, Alfredo”), kalimat yang sarat kepedihan karena ia tahu cinta mereka akan segera berakhir. Recitativo (“Ed or si scriva a lui... Che fai? Nulla! Scrivevi?”) menampilkan kegelisahan batin Violetta, dengan warna musik yang resah dan penuh ketegangan. Aria “Amami Alfredo” meledak dengan melodi penuh lirisisme dan intensitas emosional, menuntut soprano untuk memadukan kekuatan vokal dengan ekspresi dramatik yang mendalam. “Amami Alfredo” dianggap sebagai salah satu momen paling menyayat hati dalam La Traviata. Secara dramaturgi, aria ini menandai pengorbanan terbesar Violetta, mengungkapkan cinta sejatinya justru di saat ia harus merelakan Alfredo.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Edorsiscrivaalui #AmamiAlfredo #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #EvaPolimeni #KratonJogjaNABUCCO - Va pensieroKraton Jogja2025-10-26 | NABUCCO - Va pensiero merupakan aria kedua yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dipandu conductor, Aurelio Canonici.
“Va, pensiero, sull’ali dorate” (“Terbanglah, pikiran, di atas sayap emas”) adalah paduan suara dari Babak III opera Nabucco karya Verdi, dengan libretto oleh Temistocle Solera. Karya ini terkenal karena keindahan liris dan kedalaman emosinya. Verdi menulis paduan suara ini dalam tangga nada F-kres mayor, dengan tempo andante cantabile yang lembut. Musik dimulai dengan unison lembut sotto voce pada paduan suara, diiringi triplet orkestra yang halus, dan secara bertahap membangun menuju klimaks emosional.
Va, pensiero memiliki kesederhanaan yang membuatnya sangat menyentuh. Pembukaan unison memberi kejernihan dan keintiman, bagian tengah berkembang menjadi harmoni yang kaya, sementara melodi tetap mudah dinyanyikan, dan akhirnya musik kembali ke unison, menyatukan paduan suara dalam satu suara yang kohesif. Secara dramatik, paduan suara ini menyampaikan kesedihan, refleksi, dan harapan, berfungsi sebagai momen tenang dan kontemplatif setelah konflik intens di dalam opera. Di luar panggung, Va, pensiero menjadi simbol resiliensi dan sebuah lambang kuat dari nasionalisme Italia selama masa Risorgimento.
Dengan durasi sekitar lima hingga enam menit, paduan suara ini menjadi salah satu karya Verdi yang paling ikonik, sering dibawakan secara terpisah dalam konser maupun upacara publik. Kepopulerannya begitu besar sehingga Va, pensiero dinyanyikan oleh ribuan orang saat prosesi pemakaman Verdi pada tahun 1901 sebagai penghormatan terakhir. Hingga kini, karya ini tetap bertahan sebagai simbol abadi dari persatuan dan kebebasan, serta menjadi salah satu karya paduan suara yang paling dicintai dalam sejarah opera.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#NABUCCO #VaPensiero #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaLA FORZA DEL DESTINO - La Vergine degli AngeliKraton Jogja2025-10-26 | LA FORZA DEL DESTINO - La Vergine degli Angeli merupakan aria keduapuluh yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir bersama solo sopran, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Leonora dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. La forza del destino (1862) adalah salah satu opera besar Verdi dari periode tengah–akhir kariernya. “La vergine degli angeli” adalah paduan suara yang muncul pada Babak II, menjadi salah satu bagian paling khidmat dan spiritual dari opera ini. Adegan berlangsung di sebuah biara di dekat Sevilla. Setelah Leonora diterima oleh Padre Guardiano, biarawan dan jemaat menyanyikan doa ini sebagai berkat bagi Leonora, yang akan menjalani hidup suci dalam pengasingan. Suasana religius, khidmat, dan penuh pengharapan melingkupi adegan, memberi kontras dengan konflik penuh dendam yang melingkupi alur utama opera. Ditulis untuk soprano solo (Leonora) dan paduan suara, dengan iringan orkestra yang lembut dan penuh nuansa sakral. Melodi sederhana, tenang, namun sarat spiritualitas, menyerupai doa yang dinyanyikan. Harmoni paduan suara menghadirkan kesan agung, religius, dan menenangkan. “La vergine degli angeli” adalah salah satu paduan suara doa terindah dalam seluruh karya Verdi. Secara dramaturgis, bagian ini menghadirkan jeda spiritual di tengah konflik tragis opera, menyoroti tema pengampunan dan kekuatan iman. Hingga kini, potongan ini sering dipentaskan secara terpisah di konser karena keindahan dan kekuatan religiusnya. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LAFORZADELDESTIONO #LaVerginedegliAngeli #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #EvaPolimeni #KratonJogjaRIGOLETTO - Questa o quellaKraton Jogja2025-10-26 | RIGOLETTO - Questa o quella merupakan aria keempat yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo tenor Daniele Falcone yang berperan sebagai Duke of Mantua dipandu conductor, Aurelio Canonici. “Questa o quella” merupakan aria tenor yang muncul di awal Babak I opera Rigoletto (1851), karya Giuseppe Verdi dengan libretto oleh Francesco Maria Piave. Opera ini pertama kali dipentaskan di Teatro La Fenice, Venesia, pada 11 Maret 1851, dan hingga kini tetap menjadi salah satu karya paling populer Verdi. Babak pertama berlangsung di aula besar istana Duke of Mantua. Dalam sebuah pesta, sang Duke menyanyikan aria “Questa o quella”, yang mengekspresikan pandangannya bahwa semua wanita sama baginya “yang satu atau yang lain” dan bahwa kesetiaan bukanlah bagian dari hidupnya. Aria ini dengan segera memperkenalkan karakter Duke: menawan, percaya diri, namun dangkal dan tidak bermoral. Aria ini ditulis dalam B♭ mayor, tempo allegro, dengan gaya ringan, lincah, dan penuh energi. Melodinya cerah dan ritmis, mencerminkan keceriaan serta kesembronoan sang Duke. Orkestra berfungsi sebagai pengiring dinamis dengan nuansa tarian yang memperkuat sifat riang tokoh ini. Dari sisi vokal, aria menuntut kelincahan, artikulasi frasa yang jelas, serta daya tarik panggung untuk menghadirkan pesona sang Duke. “Questa o quella” menjadi pengantar penting dalam membangun karakterisasi Duke di awal opera, dan menjadi kontras dengan aria terkenalnya di babak berikutnya, “La donna è mobile”. Karena sifatnya yang singkat, ceria, dan atraktif, aria ini kerap dibawakan dalam resital tenor, serta menjadi contoh bagaimana Verdi memadukan musik dan drama untuk menggambarkan karakter secara langsung. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#RIGOLETTO #Questaoquella #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #KratonJogjaREQUIEM - Dies IraeKraton Jogja2025-10-26 | REQUIEM - Dies Irae merupakan aria kesembilanbelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Requiem karya Verdi adalah salah satu komposisi berskala besar paling dramatis pada abad kesembilan belas. Karya ini digubah layaknya sebuah tragedi kemanusiaan, dengan intensitas dan imajinasi teatrikal yang sama kuatnya dengan opera karya sang komponis. Penulisannya menuntut paduan suara besar, orkestra penuh, dan suara solo yang berdaya kuat, semua terjalin menjadi satu kesatuan dengan daya pukau yang mendalam. Musik ini menelusuri perjalanan melalui kontras perasaan yang ekstrem. Pada saat-saat tertentu musik terdengar lirih dan rapuh, menggambarkan kerentanan dan keintiman. Pada saat lain musik itu meledak dengan energi yang bergelora, dan tiupan brass yang menggelegar serta gesekan senar yang berpacu kencang membangkitkan rasa takut, marah, atau sikap menentang. Di antara kedua kutub ini hadir pula bagian yang penuh keindahan liris, ketika suara koor terangkat di atas orkestra untuk menyuarakan kerinduan, penghiburan, atau keteguhan yang tenang. Yang menjadikan karya ini luar biasa adalah kemampuannya merangkul berbagai dimensi emosional tersebut dalam satu alur utuh. Karya ini tidak sekadar menggambarkan tragedi, melainkan juga sebuah pengalaman tentang takdir dan keteguhan manusia. Pendengar diajak masuk ke dalam sebuah drama yang melebihi batasan-batasan konteks ruang dan waktu serta berbicara kepada khalayak dengan kekuatan yang universal. Dalam penampilan aria kesembilanbelas ini, karya maestro lukis S.Sudjojono milik S.Sudjojono Center tampil sebagai visualisasi. Karya berjudul ‘Pertempuran antara Sultan Agung dan J.P. Coen’ dengan medium di atas tiga panel kanvas, 300 × 1000 cm, yang dibuat pada tahun 1973 ini merupakan koleksi Museum Sejarah Jakarta. Mahakarya monumental ini menggambarkan peperangan antara Mataram dan VOC. Dibuat atas pesanan Gubernur Ali Sadikin, karya ini lahir dari riset selama di Jakarta, Solo, dan Belanda. Sudjojono menegaskan imajinasinya pada fondasi sejarah, menempatkan Timur dan Barat sebagai dua kekuatan yang setara dalam martabat dan visi kemanusiaan, selaras dengan aria Dies Irae yang ditampilkan.
Visual Projection pada Konser ini merupakan hasil kolaborasi antara Yogyakarta Royal Orchestra dengan S. Sudjojono Center dengan ditayangkan oleh Faya.fla Yogyakarta — sebuah pertemuan antara musik, seni visual, dan sejarah yang hidup di atas panggung. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#REQUIEM #DiesIrae #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaLA TRAVIATA - Un dì, felice, etereaKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Un dì, felice, eterea merupakan aria ketigabelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan duet dari tenore, Daniele Falcone yang memerankan tokoh Alfredo Germont dengan soprano, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Violetta Valéry, dan dipandu conductor, Aurelio Canonici. La Traviata (1853, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu mahakarya Verdi yang penuh emosi. Duet “Un dì, felice, eterea” muncul pada Babak I, dan merupakan momen penting yang mempertemukan Alfredo dan Violetta dalam nyanyian cinta mereka yang pertama. Adegan berlangsung di salon rumah Violetta di Paris, dalam suasana pesta meriah. Alfredo mengungkapkan cintanya kepada Violetta dengan kata-kata puitis penuh harapan. Violetta, meski terpesona, merespons dengan keragu-raguan: ia menikmati pesona cinta sesaat, namun tidak yakin pada ketahanan dan keabadiannya. Kontras emosional ini menandai awal dilema Violetta antara cinta sejati dan gaya hidupnya. Ditulis untuk duet tenor dan soprano dengan nuansa liris, intim, dan penuh keindahan melodis. Alfredo (tenor) memulai dengan melodi penuh kelembutan dan ketulusan, sementara Violetta (soprano) menjawab dengan warna vokal yang lebih ringan, elegan, namun penuh keraguan. Orkestra mendukung dengan harmoni lembut, menghadirkan suasana intim di tengah kemeriahan pesta. “Un dì, felice, eterea” adalah salah satu duet cinta paling indah dalam repertoar Verdi. Secara dramaturgi, duet ini mengungkapkan konflik utama opera: harapan cinta yang murni berhadapan dengan kenyataan hidup dan nasib tragis Violetta. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Undìfeliceeterea #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #EvaPolimeni #KratonJogjaERNANI - Si ridesti il Leon di CastigliaKraton Jogja2025-10-26 | ERNANI - Si ridesti il Leon di Castiglia merupakan aria kesepuluh yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Ernani (1844, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu opera awal Giuseppe Verdi, yang menandai periode “giovane Verdi” dengan ciri khas energi membara, semangat revolusioner, serta daya cipta melodi yang kuat. Paduan suara “Si ridesti il Leon di Castiglia” muncul pada Babak III, menjadi salah satu momen paling heroik dalam keseluruhan karya. Adegan berlangsung di Katedral Aix-la-Chapelle, di depan makam Charlemagne. Para konspirator menyerukan “Si ridesti il Leon di Castiglia!” (“Bangkitlah kembali singa Kastilia!”), sebagai ajakan bersama untuk menggulingkan kekuasaan kaisar. Seruan itu menggambarkan kebangkitan semangat patriotik dan tekad perlawanan bangsawan Spanyol. Paduan suara ini ditulis dengan gaya maskulin dan heroik, penuh ritme yang tegas serta aksen yang bersemangat. Tempo cepat dan harmoni yang kuat menciptakan suasana revolusioner. Struktur musiknya sederhana namun efektif: suara kolektif bersatu dalam deklarasi yang penuh tenaga, memperkuat kesan persatuan dan determinasi. “Si ridesti il Leon di Castiglia” adalah salah satu contoh awal coro di popolo (paduan suara rakyat) dalam karya Verdi, berdiri sejajar dengan “Va, pensiero” dari Nabucco sebagai simbol suara kolektif melawan penindasan. Karya ini juga mencerminkan konteks sosial-politik Italia era Risorgimento, ketika opera sering menjadi wadah ekspresi aspirasi kebebasan nasional. Dalam penampilan aria kesepuluh ini, karya maestro lukis S.Sudjojono milik S.Sudjojono Center tampil sebagai visualisasi. Karya berjudul ‘Tanjung Priok’ dengan medium minyak di atas kanvas yang dibuat pada tahun 1974 ini merupakan lukisan yang menampilkan sebuah adegan heroik penuh dinamika, menggambarkan amarah dan keberanian rakyat dalam bingkai sejarah kolonial. Visual ini beresonansi dengan mars patriotik pada aria ‘Si ridesti il Leon di Castiglia’ yang juga mencerminkan konteks sosial-politik Italia era Risorgimento, ketika opera sering menjadi wadah ekspresi aspirasi kebebasan nasional.
Visual Projection pada Konser ini merupakan hasil kolaborasi antara Yogyakarta Royal Orchestra dengan S. Sudjojono Center dengan ditayangkan oleh Faya.fla Yogyakarta — sebuah pertemuan antara musik, seni visual, dan sejarah yang hidup di atas panggung. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#ERNANI #SiridestiilLeondiCastiglia #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaLA TRAVIATA - Parigi, o caraKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Parigi, o cara merupakan aria keenambelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan duet dari tenore, Daniele Falcone yang memerankan tokoh Alfredo Germont dengan soprano, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Violetta Valéry, dan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Duet “Parigi, o cara” muncul pada Babak III opera La Traviata (1853), menjelang akhir opera, dan menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam repertoar Verdi. Adegan berlangsung di kamar sederhana Violetta di Paris, saat ia berada di ambang kematian akibat penyakit. Alfredo kembali setelah mengetahui pengorbanan sejati Violetta, dan dalam duet ini mereka berdua bermimpi akan hidup bersama di Paris, jauh dari penderitaan. Namun, suasana penuh harapan ini diliputi kesedihan, karena penonton sudah mengetahui bahwa impian tersebut tidak mungkin terwujud. Ditulis sebagai duet tenor dan soprano, dengan nuansa intim, lembut, dan penuh lirisisme. Melodi Alfredo penuh semangat namun dibalut rasa iba, sementara Violetta bernyanyi dengan kelemahan yang lirih namun sarat cinta. Orkestra mendukung dengan harmoni lembut dan tempo lambat, menciptakan suasana penuh harapan namun getir. Kontras antara teks yang penuh optimisme dengan warna musik yang melankolis menegaskan tragedi yang akan segera tiba. “Parigi, o cara” menjadi salah satu duet cinta paling tragis dalam sejarah opera, karena menyatukan harapan dan kepedihan dalam satu momen musikal yang indah. Adegan ini merangkum tema utama La Traviata: cinta sejati yang hanya dapat bersinar sesaat sebelum direnggut takdir. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Parigiocara #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #EvaPolimeni #KratonJogjaLUISA MILLER - Quando le sere al placidoKraton Jogja2025-10-26 | LUISA MILLER - Quando le sere al placido merupakan aria ketiga yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo tenor Daniele Falcone yang berperan sebagai Rodolfo dipandu conductor, Aurelio Canonici.
Aria “Quando le sere al placido” muncul dalam Luisa Miller, opera tiga babak karya Giuseppe Verdi (libretto: Salvadore Cammarano), yang dipentaskan pertama kali di Teatro San Carlo, Napoli, pada 8 Desember 1849. Opera ini didasarkan pada drama Kabale und Liebe (Intrigue and Love) karya Friedrich Schiller. Aria ini dinyanyikan oleh tokoh Rodolfo dalam babak ketiga, dan menjadi salah satu puncak emosional opera.
Pada bagian ini, Rodolfo merasa dikhianati oleh Luisa, kekasihnya, yang dipaksa menulis surat palsu karena ancaman dari Count Walter. Ia mengenang saat-saat kebersamaan mereka yang penuh cinta, lalu membandingkannya dengan rasa sakit akibat pengkhianatan yang ia percayai. Aria ini menggambarkan campuran nostalgia, cinta, dan kepedihan yang mendalam.
Ditulis dalam A-flat mayor dengan tempo andante, aria ini bergaya arioso yang lembut namun sarat intensitas emosional. Struktur musiknya sederhana tetapi efektif: diawali dengan lirisme penuh kerinduan, lalu berkembang menuju klimaks dramatis ketika Rodolfo meluapkan rasa sakit hatinya. Orkestra memberikan dukungan atmosferis: warna lembut pada awalnya, kemudian meningkat intensitasnya seiring emosi tokoh. Aria ini menuntut teknik bel canto: legato yang halus, frasa panjang, dan kontrol emosi yang mendalam.
“Quando le sere al placido” dianggap sebagai salah satu aria tenor paling indah karya Verdi, karena memadukan keindahan liris dengan kekuatan dramatik. Aria ini sering dibawakan dalam konser secara mandiri karena kekuatan melodinya. Banyak tenor besar—seperti Enrico Caruso, Luciano Pavarotti, Plácido Domingo, dan Jonas Kaufmann—menjadikannya repertoar wajib untuk menampilkan keindahan suara dan kekuatan ekspresif mereka.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LUISAMILLER #Quandoleserealplacido #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #KratonJogjaRIGOLETTO - Caro nomeKraton Jogja2025-10-26 | RIGOLETTO - Caro nome merupakan aria ketujuh yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan solo sopran Eva Polimeni yang memerankan tokoh Gilda dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Rigoletto (1851, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu opera paling terkenal karya Giuseppe Verdi. Opera ini dianggap sebagai titik transisi dari bentuk aria tradisional menuju alur musik yang lebih koheren. Meski penuh nuansa gelap dan moralitas ambigu, opera ini juga menyajikan salah satu momen musik paling indah: aria “Caro nome”. Aria “Caro nome” muncul pada Babak I, dinyanyikan oleh tokoh Gilda, putri Rigoletto. Setelah bertemu dengan Duke of Mantua yang menyamar, Gilda jatuh cinta. Dalam aria ini, ia melantunkan nama kekasihnya (“Caro nome che il mio cor…”), menyanyikannya dengan penuh rasa kagum, kepolosan, dan harapan. Momen ini menyoroti sisi paling rapuh dari Gilda, sekaligus menandai awal dari tragedi, karena cintanya tumbuh di atas kebohongan. Ditulis dalam E mayor dengan tempo andantino, aria ini merefleksikan gaya bel canto yang liris. Vokal dipenuhi ornamen seperti fioritura, trills, dan garis melodi panjang yang menuntut teknik vokal sangat tinggi. Iringan orkestra sederhana dengan gesekan lembut menciptakan suasana intim, bagaikan dunia mimpi yang hanya dimiliki Gilda. Kontras dengan nuansa gelap opera, aria ini menjadi oasis musikal yang murni dan penuh keindahan. Caro nome adalah salah satu aria sopran paling ikonik dalam repertoar romantik Italia, sering dibawakan dalam konser secara terpisah. Ia menampilkan kejeniusan Verdi dalam memadukan melodi indah dengan karakterisasi dramatis: kepolosan dan gairah cinta muda yang pada akhirnya membawa Gilda ke dalam tragedi. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#RIGOLETTO #Caronome #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #EvaPolimeni #KratonJogjaLA TRAVIATA - Preludio Act 1Kraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Preludio Act 1 merupakan aria kesebelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici.
La Traviata (1853, libretto: Francesco Maria Piave) adalah salah satu karya paling populer Verdi, terinspirasi dari novel La Dame aux Camélias karya Alexandre Dumas fils. Preludio Atto I menjadi pembuka opera, menggambarkan dunia batin Violetta Valéry, tokoh utama yang akan menjalani kisah cinta dan tragedi. Meskipun opera ini dimulai dengan pesta penuh keriuhan, preludio justru menghadirkan suasana lirih, rapuh, dan melankolis. Musik seakan mengisyaratkan sejak awal bahwa di balik gemerlap Paris, terdapat penderitaan dan nasib tragis seorang wanita yang sakit dan kesepian. Dimulai dengan tema lembut gesekan senar yang tipis, seakan melukiskan kelemahan fisik Violetta akibat penyakit tuberkulosis. Muncul melodi penuh kelembutan dan kesedihan, yang kemudian akan kembali terdengar pada akhir opera, saat Violetta menghadapi kematiannya. Dinamika penuh nuansa intim dan kontemplatif, sangat kontras dengan pesta meriah yang segera mengikuti di adegan pertama. Preludio ini dianggap sebagai salah satu pembuka opera paling indah karya Verdi, karena sudah merangkum tema utama: cinta, pengorbanan, dan kematian. Dengan musik singkat namun sarat ekspresi, Verdi menegaskan bahwa kisah La Traviata bukan sekadar romansa, melainkan drama kemanusiaan yang mendalam. Hingga kini, Preludio ini sering dimainkan secara mandiri dalam konser simfoni sebagai representasi kehalusan lirisisme Verdi. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Preludio #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogja‘bis. LA TRAVIATA - Libiamo ne’ lieti caliciKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Libiamo ne’ lieti calici merupakan penampilan encore dan menjadi aria keduapuluh dua yang hadir dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan duet dari tenore, Daniele Falcone yang memerankan tokoh Alfredo Germont dengan soprano, Eva Polimeni yang memerankan tokoh Violetta Valéry, dan dipandu conductor, Aurelio Canonici.
La Traviata (1853, libretto: Francesco Maria Piave) merupakan salah satu opera paling populer karya Verdi, diadaptasi dari novel La Dame aux Camélias karya Alexandre Dumas fils. “Libiamo ne’ lieti calici”, juga dikenal sebagai Brindisi (lagu minum anggur), adalah salah satu nomor paling terkenal dari seluruh repertoar opera.
Adegan dalam aria ini berlangsung pada Babak I, di salon rumah Violetta di Paris, dalam pesta penuh gemerlap. Alfredo mengajak para tamu bersulang melalui nyanyian riang ini, menyatakan bahwa hidup harus dinikmati dengan cinta dan kebahagiaan sesaat. Violetta menjawab dengan nada ringan dan penuh pesona, kemudian seluruh tamu ikut bergabung, menciptakan suasana pesta yang meriah.
Ditulis sebagai duet tenor (Alfredo) dan soprano (Violetta), yang kemudian berkembang menjadi paduan suara ansambel seluruh tamu. Irama tarian waltz 3/4 memberi nuansa ringan, ceria, dan penuh kegembiraan. Melodi mudah diingat, penuh energi, menjadikannya salah satu contoh paling menawan dari kemampuan Verdi menciptakan musik pesta yang teatrikal sekaligus memikat. “Libiamo ne’ lieti calici” adalah salah satu lagu minum anggur paling terkenal dalam sejarah opera, sering dinyanyikan bahkan di luar panggung opera sebagai simbol keceriaan dan perayaan hidup. Secara dramaturgis, bagian ini kontras dengan tragedi yang menanti, mempertegas tema utama La Traviata: kebahagiaan sesaat diwarnai bayangan penderitaan. Hingga kini, Brindisi tetap menjadi potongan wajib dalam konser dan rekaman opera di seluruh dunia.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Libiamonelieticalici #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #DanieleFalcone #EvaPolimeni #KratonJogjaMACBETH - Patria oppressaKraton Jogja2025-10-26 | MACBETH - Patria oppressa merupakan aria keenam yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dipandu conductor, Aurelio Canonici. Macbeth (1847, revisi 1865) adalah opera pertama Verdi yang diambil dari drama Shakespeare. Pada versi revisi Paris tahun 1865, Verdi mengganti paduan suara pembuka Babak IV dengan “Patria oppressa!”, sebuah himne yang dinyanyikan oleh para pengungsi Skotlandia yang meratapi penderitaan negerinya di bawah tirani Macbeth. Kehadiran bagian ini memperkuat dimensi politik opera, sekaligus menghadirkan gema patriotik serupa dengan “Va, pensiero” dalam Nabucco. Verdi sendiri dikenal selalu menanamkan nuansa kebangsaan dan kerinduan akan kebebasan dalam karyanya, meski sering dibungkus dalam konteks asing. Setelah Macbeth merebut tahta melalui pembunuhan, rakyat hidup dalam penderitaan dan ketakutan. Paduan suara ini mengekspresikan kesedihan mendalam atas tanah air yang hancur, kehilangan kebebasan, dan derita rakyat. Ia berfungsi sebagai ratapan kolektif, memperkuat nuansa tragedi sekaligus menghadirkan suara rakyat yang bisu dalam alur drama. Ditulis dalam C minor, tempo lambat (andante), dengan tekstur homofonik sederhana namun penuh bobot emosional. Dinamika lembut dan warna orkestra muram memberi kesan ratapan massal. Verdi menekankan keserempakan suara: bukan paduan suara megah, melainkan seolah tangisan serempak satu bangsa. “Patria oppressa!” memperlihatkan kemampuan Verdi menghadirkan paduan suara sebagai tokoh kolektif dalam drama. Secara musikal dan emosional, ia menjadi momen reflektif yang sangat kuat, setara dengan “Va, pensiero”, meski lebih tragis dan tanpa harapan. Hingga kini, karya ini dipandang sebagai simbol penindasan dan kerinduan akan kebebasan, sekaligus salah satu puncak artistik dari Macbeth. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#MACBETH #Patriaoppressa #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaNABUCCO - OvertureKraton Jogja2025-10-26 | NABUCCO - Overture merupakan aria pertama yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dipandu conductor, Aurelio Canonici.
Nabucco adalah opera keempat Giuseppe Verdi, digubah pada tahun 1841 dengan libretto oleh Temistocle Solera, dan dipentaskan perdana di Teatro alla Scala, Milan, pada 9 Maret 1842. Karya ini menjadi titik balik yang menentukan dalam karier Verdi, mengukuhkannya sebagai salah satu komponis opera terkemuka Italia. Lebih dari sekadar kesuksesan artistik, karya ini menggema kuat di tengah semangat Risorgimento, ketika seruan untuk persatuan dan kemerdekaan bangsa semakin menguat di seluruh Italia. Overture Nabucco, yang disusun dengan bentuk pot-pourri, memperkenalkan tema-tema utama opera sejak awal, memberikan pendengar tinjauan musikal atas drama dan intensitas yang akan tersaji di panggung.
Overture ini dibuka dengan pernyataan tegas dari instrumen brass, dipimpin oleh trombone dan tuba, sebelum ledakan orkestra tiba-tiba menciptakan suasana mendesak dan penuh konfrontasi. Bagian Andantino memperkenalkan melodi terkenal Va pensiero pada instrumen tiup kayu, yang menonjol karena keindahan liris dan nuansa kerinduan yang mendalam. Bagian ini berlawanan dengan episode-episode penuh ketegangan dan warna militer, sehingga lahir pertentangan ekspresif antara kelembutan dan kekuatan. Orkestrasi Verdi mempertegas kontras ini: brass menghadirkan bobot dan ancaman, sementara tiup kayu memberi kehangatan dan warna ekspresif. Overture kemudian mencapai klimaks yang meriah dan heroik, menandai tema besar perjuangan dan keteguhan yang akan mendominasi opera.
Lebih dari sekadar pembuka, Overture ini memperoleh makna simbolis yang jauh melampaui ruang teater. Tema-temanya, khususnya Va pensiero, menjelma sebagai lambang aspirasi akan kebebasan, identitas, dan persatuan, sehingga kuat beresonansi dengan publik Italia sebagai semacam lagu kebangsaan yang tidak resmi. Karena itulah, ‘Overture’ Nabucco erat terhubung dengan semangat Risorgimento. Gabungan antara kekuatan dramatis, kedalaman emosional, dan momentum sejarah membuat karya ini terus bertahan dalam repertoar konser hingga kini, dihargai tidak hanya karena kejeniusannya secara musikal tetapi juga karena perannya dalam sejarah budaya Italia. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#NABUCCO #Overture #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogja[SIARAN TUNDA] A Tribute to Giuseppe VerdiKraton Jogja2025-10-26 | Yogyakarta Royal Orchestra di bawah naungan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat bekerja sama dengan Kedutaan Besar Italia di Indonesia & Istituto Italiano di Cultura Jakarta (IIC) mempersembahkan sebuah konser bertajuk:
A Tribute to Giuseppe Verdi
Menampilkan Conductor, Aurelio Canonici Sopran, Eva Polimeni Tenor, Daniele Falcone Baritone, Steven Immanuel Angelo Mezzo Soprano, Mikeista Rut Sabatia Yogyakarta Royal Orchestra Yogyakarta Royal Choir
Turut menampikkan karya visual dari maestro lukis S.Sudjojono milik S.Sudjojono Center
Sabtu, 4 Oktober 2025 Pukul 19.00 WIB | Laboratorium Seni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Siaran tunda konser A Tribute to Giuseppe Verdi ini bisa Sahabat Kraton Jogja nikmati pada: Minggu, 26 Oktober 2025 pukul 19.00 WIB Premiere di kanal YouTube Kraton Jogja
Selamat menyaksikan bagi Sahabat yang belum berkesempatan hadir langsung Sabtu (04/10) lalu. Dan selamat bernostalgia kembali bagi Sahabat yang hadir langsung pada konser A Tribute to Giuseppe Verdi! ______________ Daftar Repertoar 1. NABUCCO ̴ Overture 2. NABUCCO ̴ Va pensiero 3. LUISA MILLER ̴ Quando le sere al placido (Rodolfo, Daniele Falcone) 4. RIGOLETTO ̴ Questa o quella (Duke of Mantua, Daniele Falcone) 5. MACBETH ̴ Preludio 6. MACBETH ̴ Patria oppressa 7. RIGOLETTO ̴ Caro nome (Gilda, Eva Polimeni) 8. RIGOLETTO ̴ La donna è mobile (Duke of Mantua, Daniele Falcone) 9. RIGOLETTO ̴ Un dì se ben rammentomi - Bella figlia dell'amore (Duke of Mantua, Daniele Falcone; Gilda, Eva Polimeni; Rigoletto, Steven Immanuel Angelo; Maddalena, Mikeista Rut Sabatia) 10. ERNANI ̴ Si ridesti il Leon di Castiglia 11. LA TRAVIATA ̴ Preludio Act 1 12. LA TRAVIATA ̴ De’ miei bollenti spiriti (Alfredo Germont, Daniele Falcone) 13. LA TRAVIATA ̴ Un dì, felice, eterea (Alfredo Germont, Daniele Falcone; Violetta Valéry, Eva Polimeni) 14. LA TRAVIATA ̴ Ed or si scriva a lui...Amami Alfredo (Alfredo Germont, Daniele Falcone; Violetta Valéry, Eva Polimeni) 15. LA TRAVIATA ̴ Coro di zingarelle e mattadori 16. LA TRAVIATA ̴ Parigi, o cara (Alfredo Germont, Daniele Falcone; Violetta Valéry, Eva Polimeni) 17. IL TROVATORE ̴ Vedi le fosche notturne spoglie...Chi del gitano i giorni abbella 18. IL TROVATORE ̴ D’amor sull’ali rosee (Leonora, Eva Polimeni) 19. REQUIEM ̴ Dies Irae 20. LA FORZA DEL DESTINO ̴ La Vergine degli Angeli (Leonora, Eva Polimeni) 21. LA FORZA DEL DESTINO ̴ Overture 22. ‘bis. LA TRAVIATA ̴ Libiamo ne’ lieti calici (Alfredo Germont, Daniele Falcone; Violetta Valéry, Eva Polimeni)
__________ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja X: @kratonjogja Tiktok: @kratonjogja.id Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Website: kratonjogja.id
#ATributeToGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #KonserYogyakartaRoyalOrchestra #KratonJogjaLA TRAVIATA - Coro di zingarelle e mattadoriKraton Jogja2025-10-26 | LA TRAVIATA - Coro di zingarelle e mattadori merupakan aria kelimabelas yang dibawakan dalam konser A Tribute to Giuseppe Verdi. Lagu ini menghadirkan penampilan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir dengan dipandu conductor, Aurelio Canonici. Adegan “Coro di zingarelle e mattadori” muncul pada Babak II, Adegan II opera La Traviata (1853), dalam pesta meriah di rumah Flora Bervoix. Para tamu dihibur oleh dua pertunjukan: Zingarelle (para gipsi perempuan) yang bernyanyi tentang nasib dan ramalan, dengan nada eksotis dan penuh warna; dan Mattadori (para matador Spanyol) yang membanggakan keberanian mereka di arena adu banteng, dengan gaya gagah dan penuh energi. Musik ditulis dengan warna folkloris dan teatrikal: Bagian Zingarelle bernuansa ringan, menari, penuh warna timbre dan irama yang seakan mengingatkan pada tarian rakyat. Bagian Mattadori lebih tegas, ritmis, dan heroik, mencerminkan semangat maskulin para pengadu banteng. Orkestra menghadirkan tekstur cerah, penuh semarak, mendukung atmosfer pesta yang glamor. Secara dramaturgi, adegan ini berfungsi sebagai selingan ceria yang kontras dengan konflik emosional mendalam yang akan segera muncul. Coro di zingarelle e mattadori sering dinikmati sebagai potongan konser karena vitalitas musikal dan suasana pesta yang hidup. __ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id
#LATRAVIATA #Corodizingarelleemattadori #ATributetoGiuseppeVerdi #YogyakartaRoyalOrchestra #YogyakartaRoyalChoir #KratonJogjaOrlando Bass - Pertarungan Banteng (2025) for piano and cokekanKraton Jogja2025-10-25 | Orlando Bass - Pertarungan Banteng (2025) for piano and cokekan menjadi lagu kedua yang tampil dalam konser A Tribute to Camille Saint-Saëns: 75 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia - Prancis. Lagu ini menghadirkan kolaborasi solo piano, Orlando Bass & Cokekan Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Karya pendek ini ditulis secara khusus oleh Orlando Bass untuk konser A Tribute to Camille Saint-Saëns ini, setelah mendengar bunyi Gender beberapa hari sebelum konser berlangsung. Komposisi ini hanya menggunakan lima nada dari tujuh nada dalam laras pélog, dan dengan halus mengintegrasikan sebuah melodi terkenal dari opera Prancis.
__ Simak berita terbaru melalui akun resmi Kraton Jogja : Facebook, Youtube: Kraton Jogja Twitter, Instagram: @kratonjogja @kratonjogja.event Tiktok: @kratonjogja.id Website: kratonjogja.id