Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengakui bahwa Indonesia merupakan penyumbang emisi karbon terbesar keenam di dunia. Pada tahun 2011 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden No. 61/2011 mengenai Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 2010-2020. Kemudian juga Indonesia meratifikasi Paris Agreement dengan Undang-undang No. 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Indonesia berkomitmen mengurangi emisi sebesar 29% dengan upaya sendiri dan menjadi 41% jika ada kerja sama internasional dari kondisi tanpa ada aksi (business as usual) pada tahun 2030, salah satunya melalui sektor kehutanan dan pertanian. Indonesia tidak akan mencapai target pengurangan emisi yang telah ditetapkannya sendiri itu tanpa mengatasi deforestasi dan degradasi hutan. Fakta menunjukkan bahwa sejarah kehutanan Indonesia tak lain adalah sejarah deforestasi, dari dulu hingga kini. Analisis FWI dan GFW tahun 2001 memperlihatkan bahwa laju deforestasi terus meningkat, menjadi 2 juta hektare/tahun periode 1996-2000. Selanjutnya menjadi 1,5 juta hektare/tahun periode 2001-2010 dan periode 2009-2013 lajunya sebesar 1,1 juta hektare/tahun (FWI, 2011 & 2014). Kajian terbaru FWI, walaupun hanya dipotret pada 3 provinsi, laju deforestasi masih relatif tinggi, yaitu sekitar 240 ribu hektare/tahun periode 2013-2016, meningkat dibanding periode sebelumnya (2009-2013), yaitu sekitar 146 ribu hektare/tahun. Bila ditotal maka hutan alam yang ada di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara, telah hilang seluas 718 ribu hektare selama tiga tahun. Hasil analisis lainnya ditemukan sekitar 72% deforestasi yang terjadi di 3 provinsi tersebut berada di dalam wilayah yang telah dibebani izin pengelolaan. Aktivitas-aktivitas di dalam konsesi HPH, HTI, perkebunan kelapa sawit dan pertambangan menjadi penyebab langsung (direct causes) deforestasi. Peningkatan laju deforestasi terjadi di Provinsi Maluku Utara dan Kalimantan Timur meningkat signifikan, dibandingkan apa yang terjadi di Sumatera Utara. Di Maluku Utara, peningkatan laju deforestasi bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, dari 25 ribu hektare/tahun menjadi 52 ribu hektare/tahun. Begitu juga halnya dengan Kalimantan Timur dimana laju deforestasi meningkat hampir dua kali lipat dari periode sebelumnya, dari 84 ribu hektare/tahun di tahun 2013 menjadi 157 ribu hektare/tahun di tahun 2016. Fakta-fakta deforestasi menggugat keberpihakan Pemerintah Indonesia kepada masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Termasuk merealisasikan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi, menjaga lingkungan hidup, mencegah bencana, dan melestarikan sumber daya alam. Fakta menunjukkan bahwa 50% dari seluruh daratan di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara telah dikuasai oleh pemegang izin konsesi. Hanya 4% dari wilayah daratan yang penguasaan dan pemanfaatannya berada di tangan masyarakat dalam berbagai bentuk program perhutanan sosial dan hutan adat. Fakta menunjukkan juga bahwa degradasi hutan dan deforestasi di provinsi-provinsi ini telah menyebabkan bencana lingkungan: banjir, longsor, kekeringan dan hilangnya habitat satwa dilindungi.
FWI: DEFORESTASI TANPA HENTI DI INDONESIAForest Watch Indonesia2018-03-13 | DEFORESTASI TANPA HENTI DI INDONESIA
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengakui bahwa Indonesia merupakan penyumbang emisi karbon terbesar keenam di dunia. Pada tahun 2011 Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden No. 61/2011 mengenai Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 2010-2020. Kemudian juga Indonesia meratifikasi Paris Agreement dengan Undang-undang No. 16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Indonesia berkomitmen mengurangi emisi sebesar 29% dengan upaya sendiri dan menjadi 41% jika ada kerja sama internasional dari kondisi tanpa ada aksi (business as usual) pada tahun 2030, salah satunya melalui sektor kehutanan dan pertanian. Indonesia tidak akan mencapai target pengurangan emisi yang telah ditetapkannya sendiri itu tanpa mengatasi deforestasi dan degradasi hutan. Fakta menunjukkan bahwa sejarah kehutanan Indonesia tak lain adalah sejarah deforestasi, dari dulu hingga kini. Analisis FWI dan GFW tahun 2001 memperlihatkan bahwa laju deforestasi terus meningkat, menjadi 2 juta hektare/tahun periode 1996-2000. Selanjutnya menjadi 1,5 juta hektare/tahun periode 2001-2010 dan periode 2009-2013 lajunya sebesar 1,1 juta hektare/tahun (FWI, 2011 & 2014). Kajian terbaru FWI, walaupun hanya dipotret pada 3 provinsi, laju deforestasi masih relatif tinggi, yaitu sekitar 240 ribu hektare/tahun periode 2013-2016, meningkat dibanding periode sebelumnya (2009-2013), yaitu sekitar 146 ribu hektare/tahun. Bila ditotal maka hutan alam yang ada di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara, telah hilang seluas 718 ribu hektare selama tiga tahun. Hasil analisis lainnya ditemukan sekitar 72% deforestasi yang terjadi di 3 provinsi tersebut berada di dalam wilayah yang telah dibebani izin pengelolaan. Aktivitas-aktivitas di dalam konsesi HPH, HTI, perkebunan kelapa sawit dan pertambangan menjadi penyebab langsung (direct causes) deforestasi. Peningkatan laju deforestasi terjadi di Provinsi Maluku Utara dan Kalimantan Timur meningkat signifikan, dibandingkan apa yang terjadi di Sumatera Utara. Di Maluku Utara, peningkatan laju deforestasi bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, dari 25 ribu hektare/tahun menjadi 52 ribu hektare/tahun. Begitu juga halnya dengan Kalimantan Timur dimana laju deforestasi meningkat hampir dua kali lipat dari periode sebelumnya, dari 84 ribu hektare/tahun di tahun 2013 menjadi 157 ribu hektare/tahun di tahun 2016. Fakta-fakta deforestasi menggugat keberpihakan Pemerintah Indonesia kepada masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Termasuk merealisasikan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam mengurangi emisi, menjaga lingkungan hidup, mencegah bencana, dan melestarikan sumber daya alam. Fakta menunjukkan bahwa 50% dari seluruh daratan di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Maluku Utara telah dikuasai oleh pemegang izin konsesi. Hanya 4% dari wilayah daratan yang penguasaan dan pemanfaatannya berada di tangan masyarakat dalam berbagai bentuk program perhutanan sosial dan hutan adat. Fakta menunjukkan juga bahwa degradasi hutan dan deforestasi di provinsi-provinsi ini telah menyebabkan bencana lingkungan: banjir, longsor, kekeringan dan hilangnya habitat satwa dilindungi.Forest Fun Talk EPS. 2 | GAJAH KERDIL KALIMANTAN: SEKERDIL APA SIH?!Forest Watch Indonesia2026-09-15 | 🐘 Mengenal Gajah Kerdil Kalimantan — Si Raksasa yang Nyaris Menghilang
Tahukah kamu, di ujung utara Pulau Kalimantan hidup satwa unik yang jarang orang tahu keberadaannya? Gajah kerdil Kalimantan (Elephas maximus borneensis), atau sering disebut gajah borneo, adalah subspesies gajah asia yang hanya ditemukan di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan sebagian di Sabah, Malaysia.
Meski disebut "kerdil", tingginya tetap bisa mencapai 2,5 meter dengan berat 3–5 ton. Yang bikin miris, populasinya di Indonesia diperkirakan tinggal belasan ekor saja, jauh lebih sedikit dibanding populasi di Sabah yang mencapai ribuan. Alih fungsi hutan jadi kebun sawit disebut-sebut sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup mereka.
Di episode kali ini, kita bahas tuntas soal habitat, ancaman, dan upaya konservasi gajah kerdil Kalimantan. Yuk, dengarkan sampai habis!
#GajahKerdilKalimantan #GajahBorneo #Konservasi #KalimantanUtara #SatwaLangka #SaveBiodiversityForest Fun Talk EPS 2 | Kalimantan Punya Gajah?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-09-14 | ...Karhutla event tahunan?! | #RESETKEHUTANANForest Watch Indonesia2026-09-08 | ...Suasana Upacara 17 Agustus 2026 di Gua Bokimoruru, Sagea, Halmahera TengahForest Watch Indonesia2026-08-24 | ...El Nino 2026 LAGI NGAMUK! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-07-24 | ...FOREST FUN TALK! Eps. 1Forest Watch Indonesia2026-07-01 | ...Forest Fun Talk EPS. 1 | Ngurusin Hutan Doang? Eits, Nggak Sesimpel Itu!Forest Watch Indonesia2026-07-01 | Halo Sobat Hutan, kami datang dengan cerita baru!
Podcast Forest Watch Indonesia kini hadir dengan wajah dan suasana baru melalui Forest Fun Talk, ruang bicara yang mengajak kita melihat isu hutan dan lingkungan dari sudut pandang yang lebih dekat, santai, dan menyenangkan.
Di episode ini, kita bakal kenalan lebih dekat dengan FWI. Sebenarnya FWI itu ngapain aja? Isu apa yang sedang diangkat? Kampanye seperti apa yang sedang dijalankan? Dan seperti apa cerita di balik proses produksi kontennya?
🎙️ Forest Fun Talk Ep.1: Ngurusin Hutan Doang? Eits, Nggak Sesimpel Itu!
Kalau kamu penasaran seperti apa rasanya sehari-hari membahas hutan, mengolah data, menyusun kampanye, sampai memproduksi berbagai konten tentang lingkungan, episode ini wajib kamu dengarkan.
Yuk, kenalan lebih dekat dengan FWI dan temukan cerita-cerita menarik di balik kerja menjaga hutan Indonesia.
#PodcastForestFunTalkSTOP DEFORESTASI!!!Forest Watch Indonesia2026-06-24 | ...COMING SOON | FOREST FUN TALK! Eps.0Forest Watch Indonesia2026-06-20 | Sesuatu yang baru sedang tumbuh... Dari isu deforestasi hingga kisah para penjaga hutan, kami akan membawanya langsung ke telinga soba hutan.
Sudah siap mendengarkan suara dari balik rimbunnya hutan?
#bongkarfakta #forestwatchindonesiaRakyat Indonesia Ga Pake dolar?Forest Watch Indonesia2026-06-10 | ...Deforestasi terbesar Indonesia bukan di daerah yang kita kira?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-05-20 | ...Makan Papeda di Kepulauan Aru!Forest Watch Indonesia2026-05-11 | ...SELAMAT HARI BUMI SEDUNIA #ekonomirestoratif #hutan #worldearthdayForest Watch Indonesia2026-04-22 | Di banyak tempat, hutan kini dipandang sebagai komoditas. Dibuka, diambil, lalu ditinggalkan.
Hari ini, di Hari Bumi, kita diingatkan kembali bahwa menjaga hutan berarti menjaga masa depan. Karena dari sanalah pengetahuan tumbuh, kehidupan bergantung, dan harapan dipertahankan.
Selamat Hari Bumi Sedunia 🌏 #forestwatchindonesia #masyarakatadat #danaisuntukkesejahteraanrakyat #podcast #sejarahDIBALIK CUAN BISNIS KARBONForest Watch Indonesia2026-03-30 | Dibalik “cuan” bisnis karbon, ada cerita yang jarang diungkap ke publik.
Film ini mengajak kamu melihat lebih dalam bagaimana skema karbon bekerja di lapangan—siapa yang benar-benar diuntungkan, siapa yang menanggung beban, dan bagaimana dampaknya bagi hutan serta masyarakat adat dan lokal.
Melalui perspektif investigatif dan pengalaman langsung di lapangan, Forest Watch Indonesia (FWI) membongkar realitas di balik klaim solusi iklim berbasis pasar. Apakah bisnis karbon benar-benar menjadi jalan keluar krisis iklim, atau justru membuka celah baru bagi eksploitasi?
Tonton sampai akhir dan temukan jawabannya.Kemandirian Ekonomi : Merawat Kelimpahan SentarumForest Watch Indonesia2026-03-12 | Di jantung Kapuas Hulu, masyarakat di kawasan Danau Sentarum membangun kemandirian ekonomi dengan tetap menjaga hutan dan perairan tempat mereka hidup. Mulai dari menangkap ikan secara tradisional, membuat berbagai macam olahan produk perikanan, memanen madu hutan, hingga memanfaatkan hasil hutan bukan kayu.
Riset Ekonomi Restoratif Forest Watch Indonesia mencatat bahwa praktik-praktik ekonomi lokal di Sentarum justru memperkuat hubungan antara manusia, hutan, dan perairan.
Kisah dari Sentarum ini menunjukkan satu hal penting: ketika alam dijaga, ekonomi lokal dapat tumbuh dengan cara yang adil, mandiri, dan berkelanjutan.
#EkonomiRestoratif #DanauSentarum #KapuasHulu #HutanUntukMasaDepan #ForestWatchIndonesiaKemandirian Ekonomi : Ruang Kelola Masa DepanForest Watch Indonesia2026-03-12 | Bagi Masyarakat Adat Dayak Kalis, hutan bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan juga ruang kelola untuk masa depan yang berkelanjutan.
Melalui praktik pengelolaan wilayah adat, masyarakat menjaga hutan, sungai, dan ladang sebagai sumber pangan, ekonomi, dan identitas budaya. Dari hasil hutan, pertanian tradisional, hingga pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, masyarakat membangun kemandirian ekonomi tanpa merusak alam.
Riset Ekonomi Restoratif Forest Watch Indonesia menunjukkan bahwa ketika masyarakat adat memiliki ruang kelola yang kuat, hutan tetap terjaga dan kehidupan masyarakat menjadi lebih berdaulat.
Kisah Dayak Kalis mengingatkan kita bahwa masa depan hutan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada pengakuan dan perlindungan terhadap wilayah kelola masyarakat adat.
#EkonomiRestoratif #DayakKalis #MasyarakatAdat #RuangKelola #ForestWatchIndonesiaKemandirian Ekonomi: Merawat Alam Menenun PengetahuanForest Watch Indonesia2026-03-12 | Bagi Masyarakat Adat Dayak Iban, hutan bukan hanya sebagai ruang hidup, melainkan juga sumber pengetahuan dan budaya.
Melalui tenun, perempuan Iban merawat hubungan antara manusia dan alam. Benang-benang yang ditenun bukan sekadar kain, tetapi juga cerita tentang hutan, identitas, dan warisan leluhur. Pewarna tenun yang digunakan berasal dari kekayaan hutan yang berhasil mereka jaga dan lestarikan dari generasi ke generasi.
Riset Ekonomi Restoratif Forest Watch Indonesia menunjukkan bahwa praktik ekonomi berbasis budaya seperti tenun mampu menjadi jalan bagi kesejahteraan tanpa merusak alam.
Film ini merekam kisah tentang bagaimana hutan dan manusia saling menjaga melalui tradisi, pengetahuan, dan ekonomi yang memulihkan.
#EkonomiRestoratif #MasyarakatAdat #DayakIban #TenunIban #ForestWatchIndonesiaKemandirian Ekonomi : Masyarakat Adat sebagai Penjaga Hutan dan Ekonomi BerkelanjutanForest Watch Indonesia2026-03-12 | Di tengah masifnya tekanan industri ekstraktif, masyarakat adat dan masyarakat lokal di Kapuas Hulu tetap mempertahankan cara hidup yang selaras dengan alam. Mulai dari memanen hasil hutan dengan bijak, menenun dengan pewarna alam, menjaga danau dan sungai sebagai sumber pangan, serta mengelola wilayah adat sebagai ruang hidup yang berkelanjutan.
Bagi mereka, hutan bukan hanya bentang alam yang hijau. Melainkan juga rumah, sumber kehidupan, dan ruang masa depan yang telah dijaga lintas generasi.
Film ini merekam potret nyata ekonomi restoratif, ketika kelestarian hutan terjaga, budaya tetap hidup, dan masyarakat dapat membangun kemandirian ekonomi tanpa harus merusak alam.
#EkonomiRestoratif #KapuasHulu #MasyarakatAdat #HutanUntukMasaDepan #ForestWatchIndonesiaBarang Bukti Korupsi BISA DIKORUPSI LAGI?!Forest Watch Indonesia2026-02-27 | ...Udara yang kita hirup nggak gratis?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-02-27 | ...At least gue ga nyawit! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-02-24 | ...MARFENFEN, ARUForest Watch Indonesia2026-02-06 | Air yang lahir dari hutan dan karst menjaga kehidupan hari ini, mengalir ke rumah-rumah, ladang, dan ruang hidup kita.
Dari sanalah ekosistem bertahan dan anak-anak punya kesempatan tumbuh dengan lingkungan yang sehat.
Namun semua itu hanya mungkin jika hutan dan karst tetap dilindungi.
Yuk, jaga hutan dan karst bersama.Gajah VS Manusia | Apa kabar gajah Way Kambas?Forest Watch Indonesia2026-01-28 | ...Ikan sapu-sapu meledak di ciliwung?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-01-27 | ...NGASO │ INDONESIA DARURAT BENCANA HIDROMETEOROLOGIForest Watch Indonesia2026-01-20 | Panggilan untuk Sobat Hutan!
Hutan Indonesia sedang menghadapi ancaman serius. Aktivitas deforestasi masih terjadi secara masif di berbagai wilayah dan berdampak langsung pada meningkatnya krisis iklim. Pada akhirnya, kondisi ini memicu krisis di berbagai sektor kehidupan, salah satunya krisis kebencanaan.
Sepanjang tahun 2025, BNPB mencatat sebanyak 3.116 kejadian bencana di Indonesia, dengan bencana hidrometeorologi menempati peringkat pertama. Setiap tahunnya, bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian besar, tetapi juga merenggut korban jiwa.
Forest Watch Indonesia mengajak Sobat Hutan untuk bergabung dalam Ngobrol Asik Online (NGASO) dengan tema: “Indonesia Darurat Bencana Hidrometeorologi.”
Melalui diskusi ini, kita akan bersama-sama meningkatkan kesadaran tentang pentingnya tata kelola lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, sekaligus mendorong penguatan kebijakan lingkungan yang lebih adil dan berpihak pada keselamatan rakyat.
Mari belajar, mendengar, dan memperkuat solidaritas bersama!
#NgasoFWI #BelajarOnline #KrisisBencana #AyoJagaHutanWarga Kaltara vs PSN #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-01-15 | ...Banjir Bandang Kalimantan karena hutan gundul? Yang bener?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2026-01-07 | ...Deforestasi PLTA Batang Toru pemicu banjir bandang? #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-12-16 | ...DISEMINASI RISET │POTRET TATA KELOLA SAWITForest Watch Indonesia2025-12-15 | Forest Watch Indonesia merilis riset terbaru tentang potret tata kelola sawit di Indonesia. Riset ini membaca hubungan antara tuntutan pasar global, kondisi di lapangan, dan arah kebijakan yang sedang berjalan pasca terbitanya SK No.36 Tahun 2025 tentang Keterlanjuran Sawit dalam Kawasan Hutan. Kegiatan ini jadi ruang untuk memahami isu utamanya, mendiskusikan tantangan, dan merumuskan langkah perbaikan tata kelola yang lebih transparan dan berkeadilan. #TataKelolaSawit #TransparansiHGU #KeadilanAgraria #SaveForest #StopDeforestasiDISEMINASI RISET │ EVALUASI TATA KELOLA KK DAN GAKKUM PERDAGANGAN SATWA LIAR DI INDONESIAForest Watch Indonesia2025-12-12 | Hutan rusak menyebabkan bencana alam seperti yang terjadi Sumatera, satwa liar terus diburu hingga diambang kepunahan, padahal di atas kertas Indonesia punya beragam regulasi, mulai dari UU Kehutanan sampai UU Konservasi Sumber Daya Alam Hayati & Ekosistemnya. Kira-kira apa yang menyebabkan hal ini terjadi?
Forest Watch Indonesia dan Garda Animalia akan mendiseminasikan hasil riset berjudul “Melindungi Keanekaragaman Hayati: Evaluasi Tata Kelola Kawasan Konservasi dan Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar di Indonesia” – Riset ini akan mengurai deforestasi di dalam kawasan konservasi, kerentanan KBA/KEE, sampai inkonsistensi pemidanaan kasus perdagangan satwa liar.
Terbuka untuk publik, khususnya pemangku kebijakan, penegak hukum, akademisi, jurnalis, dan pegiat lingkungan yang ingin mendorong tata kelola konservasi yang lebih adil dan efektif.Seri Diskusi NGASO “Hutan, Tanah, dan Nyawa: Seberapa Mahal Harga Keadilan Ekologis di Indonesia?”Forest Watch Indonesia2025-12-10 | ...Seri Diskusi NGASO “Hutan, Tanah, dan Nyawa: Seberapa Mahal Harga Keadilan Ekologis di Indonesia?”Forest Watch Indonesia2025-12-10 | ...NGASO │ SUMATERA DAN KRISIS EKOLOGI HARI INIForest Watch Indonesia2025-12-05 | Panggilan untuk Sobat Hutan!
Sumatera sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang krisis. Ia sedang berduka. Dan hari ini, Sumatera memanggil kita, karena diam bukanlah sebuah pilihan.
Krisis ekologi bukan lagi ancaman di masa depan. Dampaknya nyata, dan sudah dirasakan oleh saudara-saudara kita di berbagai wilayah Sumatera.
Forest Watch Indonesia mengajak Sobat Hutan untuk ikut dalam Ngobrol Asik Online (NGASO) dengan tema: “Sumatera dan Krisis Ekologi Hari Ini”
Diskusi ini penting untuk membuka mata kita bersama: memahami pola kerusakan, membaca kondisi di lapangan, dan melihat mengapa Sumatera menjadi salah satu titik paling krusial bagi masa depan lingkungan Indonesia.
Saatnya kita hadir, mendengar, dan bergerak bersama.
#krisisekologi #ngasofwi #ngobrolasikonline #sumateramemanggilPuncak climate chaos ada di 2050?! #bongkarfakta #cekfaktaberita #cop30Forest Watch Indonesia2025-11-13 | ...Orangutan hama? SIMAK VIDEO INI! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-11-05 | ...25 Tahun Perjalanan FWI Memantau HutanForest Watch Indonesia2025-10-14 | 25 Tahun Forest Watch Indonesia: Membuka Data, Menguatkan Suara
Seperempat abad lalu, Forest Watch Indonesia (FWI) lahir dari keresahan: hilangnya hutan dalam skala besar, tanpa data yang bisa dipercaya. Dari ruang-ruang kecil dengan komputer tua, kami memulai perjalanan dengan satu keyakinan sederhana—publik berhak tahu.
Selama 25 tahun, kami membuka data, menguatkan suara masyarakat adat, dan menyajikan fakta tentang hutan Indonesia yang jarang terlihat. Dari meja data hingga lapangan, dari peta hingga suara masyarakat, kami membuktikan bahwa data adalah alat perjuangan.
Film dokumenter ini merekam perjalanan FWI—awal mula, pencapaian, tantangan, hingga harapan generasi berikutnya. Karena menjaga hutan bukan sekadar melindungi pohon, tapi melindungi kehidupan, keadilan, dan masa depan kita bersama.
Saksikan kisah lengkapnya: Hutan dalam Angka, Cerita 25 Tahun FWI – Forests in Numbers, People in Stories
#FWI25Tahun #GoodForestGovernanceNeedGoodForestInformation #SaveOurForest #ForestWatchIndonesiaBanjir Raja Ampat 23/09/25 #bongkarfakta #beritaterkiniForest Watch Indonesia2025-09-29 | ...Penyerbuan Masyarakat Adat oleh PT TPL #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-09-24 | ...Kalau kalian mau main kartu sama siapa nih? #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-09-16 | ...BANJIR BALI! | yakin cuma karena curah hujan? #bongkarfakta #deforestasiForest Watch Indonesia2025-09-12 | ...DIALOG PUBLIK │HAK KOMUNAL DAN HAK ULAYAT DALAM RUU MASYARAKAT ADATForest Watch Indonesia2025-08-25 | tanah dan wilayah adat merupakan bagian yang sangat penting untuk masyarakat adat, bukan hanya soal hukum, tapi juga soal budaya, lingkungan, dan nilai spiritual mereka yang erat kaitannya dengan Hak Komunal dan Hak Ulayat.
Dalam rangka memperkuat perlindungan hak-hak tersebut, Forest Watch Indonesia bersama Koalisi Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat mengadakan Dialog Publik: “Hak Komunal & Hak Ulayat dalam RUU Masyarakat Adat.”
Diskusi ini menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan perwakilan partai politik untuk membangun pemahaman bersama, mengidentifikasi tantangan, serta menyusun rekomendasi kebijakan demi mendorong pengesahan RUU Masyarakat Adat. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk ikut berkontribusi dan memperluas wawasan!
#SahkanRUUMasyarakatAdat #MasyarakatAdat #HakUlayat #HakKomunal #DialogPublikTunjang Padang vs Tunjangan Rumah. Lebih suka mana? #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-08-23 | ...FILM BIG BAD BIOMASS (English Subtitles)Forest Watch Indonesia2025-08-08 | Hello Forest Friends!
The transition from fossil fuels to renewable energy is a key solution to addressing the global climate crisis. Bioenergy, popularly considered environmentally friendly, has actually created problems, such as deforestation and even the loss of living space for indigenous peoples and local communities, including biodiversity habitats.
The film "Big Bad Biomass," an investigative documentary, a collaboration between INFIS, Trend Asia, FWI, Japesda, WALHI Jambi, and WALHI Gorontalo, successfully uncovers the facts about bioenergy utilization practices in Indonesia.
Concession locations: 1. PT. Hijau Artha Nusa (Merangin, Jambi) 2. PT. Gorontalo Citra Lestari (North Gorontalo, Gorontalo) 3. PT. Banyan Tumbuh Lestari (Pohuwato, Gorontalo) 4. PT. Gorontalo Panel Lestari (North Gorontalo, Gorontalo) 5. Perhutani (Sukabumi, West Java)
Several publications on the energy transition can also be accessed through the following links:
Transisi dari energi fosil ke energi terbarukan menjadi solusi kunci menghadapi krisis iklim global. Bioenergi yang populer dianggap ramah lingkungan justru menuai masalah loh, seperti deforestasi, dan bahkan merebut ruang hidup masyarakat adat, komunitas lokal, termasuk habitat keanekaragaman hayati.
Dalam Film “Big Bad Biomass” sebuah dokumenter investigasi, hasil kolaborasi INFIS, Trend Asia, FWI, Japesda, WALHI Jambi dan WALHI Gorontalo berhasil mengungkap fakta praktik pemanfaatan bioenergi di Indonesia.
Lokasi konsesi: 1. PT. Hijau Artha Nusa (Merangin, Jambi) 2. PT. Gorontalo Citra Lestari (Gorontalo Utara, Gorontalo) 3. PT. Banyan Tumbuh Lestari (Pohuwato, Gorontalo) 4. PT. Gorontalo Panel Lestari (Gorontalo Utara, Gorontalo) 5. Perhutani (Sukabumi, Jawa Barat)
Untuk beberapa publikasi mengenai transisi energi juga dapat diakses melalui beberapa link berikut :
#bongkarfakta #transisienergi #deforestasi #deforestasuBIOMASSAFILM BIG BAD BIOMASS - Japanese SubtitlesForest Watch Indonesia2025-08-08 | 日本語版(自然なYouTube向け)
Transisi dari energi fosil ke energi terbarukan menjadi solusi kunci menghadapi krisis iklim global. Bioenergi yang populer dianggap ramah lingkungan justru menuai masalah loh, seperti deforestasi, dan bahkan merebut ruang hidup masyarakat adat, komunitas lokal, termasuk habitat keanekaragaman hayati.
Dalam Film “Big Bad Biomass” sebuah dokumenter investigasi, hasil kolaborasi INFIS, Trend Asia, FWI, Japesda, WALHI Jambi dan WALHI Gorontalo berhasil mengungkap fakta praktik pemanfaatan bioenergi di Indonesia.
Lokasi konsesi: 1. PT. Hijau Artha Nusa (Merangin, Jambi) 2. PT. Gorontalo Citra Lestari (Gorontalo Utara, Gorontalo) 3. PT. Banyan Tumbuh Lestari (Pohuwato, Gorontalo) 4. PT. Gorontalo Panel Lestari (Gorontalo Utara, Gorontalo) 5. Perhutani (Sukabumi, Jawa Barat)
Untuk beberapa publikasi mengenai transisi energi juga dapat diakses melalui beberapa link berikut :
#bongkarfakta #transisienergi #deforestasibiomassa #deforestasiHah FOLU NET SINK 2030 GAGAL? Kok bisa?! #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-06-23 | ...HAH? TAHUN 2024 INDONESIA DIPENUHI KONFLIK MASYARAKAT ADAT? Ada apa aja tuh? #bongkarfaktaForest Watch Indonesia2025-06-16 | ...DISKUSI PUBLIK DAN MEDIA │SUARA DARI TAPAK: MERESPON REVISI UU KEHUTANANForest Watch Indonesia2025-06-04 | Sobat hutan, saatnya kita bersuara!
Yuk gabung di diskusi publik bareng pemantau hutan dari seluruh penjuru Indonesia. Dari Aceh sampai Papua, mereka akan share langsung kondisi di lapangan dan dikontekstualisasikan dengan rencana Revisi UU Kehutanan🔥
Yuk jadi bagian dari perubahan!
#RevisiUUKehutanan #SuaraDariTapak #SaveHutan #LingkunganHidupInternational Webinar │Indonesia Journalist Reports Transisi EnergiForest Watch Indonesia2025-05-06 | Tahun 2024, Forest Watch Indonesia bersama Mongabay Indonesia & Jaringan Jurnalis - Transisi Energi Watch (TEW) turun langsung mengawal proyek bioenergi yang katanya sih buat bantu atasi krisis iklim. Tapi… hasil investigasinya justru menemukan banyak fakta yang ironis dan perlu kita kawal bersama nih 👀🔥Diskusi Publik │Saatnya Negara Mengakui Kekayaan Intelektual Masyarakat AdatForest Watch Indonesia2025-04-23 | Masyarakat Adat sering dianggap terbelakang dan jauh dari teknologi modern, padahal mereka memiliki pengetahuan dan teknologi tradisional yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, sistem Hukum Kekayaan Intelektual (HKI) nasional belum mampu melindungi kekayaan komunal masyarakat adat karena masih bersifat individual dan kapitalis. Akibatnya, warisan budaya mereka rentan terhadap eksploitasi tanpa kompensasi yang adil. Diperlukan kebijakan yang inklusif dan pengesahan RUU Masyarakat Adat untuk menjamin pengakuan, perlindungan, dan pelibatan aktif Masyarakat Adat dalam proses hukum dan kebijakan nasional.
Koalisi Kawal RUU MA mengundang rekan-rekan sekalian untuk hadir pada Diskusi Publik "Merawat Warisan Leluhur: Saatnya Negara Mengakui Kekayaan Intelektual Masyarakat Adat’’.
#SahkanRUUMasyarakatAdatDiskusi Publik │ Hak-Hak Tradisional Masyarakat Adat dan UrgensinyaForest Watch Indonesia2025-04-16 | Pengakuan hak-hak tradisional masyarakat adat dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 sangat penting untuk hukum dan demokrasi Indonesia. Pasal tersebut juga mencerminkan pentingnya perlindungan sosial, budaya, dan politik masyarakat adat.
Koalisi Kawal RUU MA mengajak rekan-rekan sekalian untuk hadir pada Diskusi Publik Hak-Hak Tradisional Masyarakat Adat dan Urgensinya terhadap Upaya Mendorong Pengesahan RUU Masyarakat Adat